PPDB SMAN 1 Sukajaya Menuai Polemik, Ini Keluhan Masyarakat

0
PPDB
FOTO : ILUSTRASI

NARASITODAY.COMSeperti menjadi tradisi dikala musim penerimaan siswa siswi baru di sekolah negara, selalu dibumbui masalah. Salah satunya pendaftaran siswa baru di SMA Negeri 1 Sukajaya tahun ini telah menjadi sorotan utama di kalangan masyarakat.

Antusiasme yang tinggi dari para orang tua dan calon siswa diimbangi dengan kekecewaan besar karena penerimaan yang tidak sesuai harapan, terutama disebabkan oleh sistem zonasi dalam PPDB.

Seorang wali murid, Jambrong, dengan tegas menyampaikan ketidakpuasannya terhadap PPDB yang di gelar SMA N 1 Sukajaya.

Baca Juga :  Pemcam Leuwiliang Galakkan Jumsih di Kantor Pelayanan Publik 

Banyak yang berharap anaknya bisa sekolah di SMAN 1 Sukajaya, tapi kenyataannya penerimaan di sekolah tersebut sangat ketat.

“Kuota terbatas sedangkan yang mendaftar berlimpah. Ini membuat kita bertanya-tanya, kemana lagi kita harus mencari solusi,” keluh Jambrong kepada wartawan.

Di Desa Pasir Madang, misalnya, dari 30 calon siswa yang mendaftar, hanya 4 yang diterima melalui jalur Surat Keterangan Miskin (SKM), memperumit lagi situasi bagi masyarakat pinggiran.

Baca Juga :  AGATRA Jadi Ajang Cetak Anggota Pramuka: Begini Kata Agus Ridho

Sementara itu, Dede Irawan, staf administrasi SMAN 1 Sukajaya, menjelaskan bahwa dalam tahap pertama, jumlah pendaftar telah melampaui kuota dengan signifikan.

“Meskipun ada upaya untuk menyeimbangkan melalui jalur prestasi, seperti yang dimulai hari ini, namun tantangan utama tetap berada pada sistem zonasi yang membatasi akses pendidikan,” katanya.

Kritik juga disampaikan terhadap kebijakan pemerintah terkait peraturan zonasi yang dianggap kurang fleksibel untuk daerah-daerah terpencil.

Baca Juga :  KHBG Bogor Barat Gelar Silahturahmi Sesama Pecinta Hewan di Alun Alun Leuwiliang

Tokoh masyarakat Sukajaya, Apih Ujang menyoroti perlunya penambahan sarana pendidikan di Sukajaya agar semua anak mendapatkan akses yang setara.

“Dalam upaya mengatasi masalah ini, masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah konstruktif,” ujar Apih Ujang.

“Kami butuh solusi nyata untuk memastikan setiap anak di Sukajaya bisa mengakses pendidikan yang layak tanpa hambatan yang berarti,” pungkasnya. ***