Jaro: Lebih dari Sekadar Gelar untuk Pemimpin Desa

0

Oleh : Andreas 

NARASITODAY.COM- Kata “jaro” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti bilah bambu untuk pagar. Namun, di wilayah Bogor bagian barat, istilah ini memiliki makna yang lebih dalam dan penuh nuansa budaya.

Di sini, “jaro” merujuk pada sosok pemimpin di pedesaan atau kepala desa. Fenomena serupa juga ditemukan di komunitas Baduy, Banten, di mana “jaro” digunakan untuk menyebut kepala dusun atau kampung.

Namun, tidak semua masyarakat menyambut positif penggunaan sebutan jaro untuk pemimpin desa.

Sebagian menganggap kata ini identik dengan kejawaraan, meskipun terdapat makna positif tersembunyi di baliknya.

Jaro di Bogor Barat

Di Kabupaten Bogor bagian barat, yang berbatasan dengan Provinsi Banten, beberapa kepala desa dikenal dengan sebutan jaro.

Baca Juga :  KEMANA SETELAH LULUS SMA?

Contohnya, Kepala Desa Kiarasari, Sukajaya, Kabupaten Bogor, dikenal sebagai Jaro Ahyar. Nama ini begitu akrab di telinga masyarakat setempat.

Selain Jaro Ahyar, ada pula Ade Ruhandi yang dikenal sebagai Jaro Ade atau JA, yang merupakan calon Bupati Bogor.

Juga, ada Jaro Peloy, seorang warga Sukajaya yang kini menjabat di DPRD Kabupaten Bogor. Uniknya, sebutan Jaro Peloy bahkan tercantum dalam kartu tanda penduduknya.

Pandangan Masyarakat tentang Jaro

Bagi sebagian orang, sebutan jaro mungkin terdengar asing dan menimbulkan kesan negatif karena dianggap identik dengan jawara. Namun, di Banten, jaro adalah gelar terhormat.

Salah satunya adalah Jaro Karis, seorang pejuang dari Cisimeut, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, yang berperan penting dalam perang gerilya melawan penjajah Belanda saat perang kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  SOLUSI MEMBERANTAS CORET CORET PELAJAR DI KOTA BOGOR

“Julukan kepala desa sebagai jaro berasal dari Banten. Karena wilayah kami berbatasan dengan Banten, beberapa kepala desa di sini juga dipanggil jaro,” ujar Jaro Ahyar, Kepala Desa Kiarasari, pada beberapa waktu lalu.

Menurut Jaro Ahyar, sebutan jaro sudah ada sebelum dirinya menjabat sebagai kepala desa. Gelar ini diidentikkan dengan pemimpin yang memiliki keberanian seperti jawara.

“Makna jaro karena kita berada di perbatasan. Kalimat jaro itu hanya di Banten dan berhubungan dengan wilayah Sukajaya yang berbatasan dengan Banten,” jelasnya.

Jaro Ahyar menambahkan bahwa sebutan jaro sudah menjadi bagian dari budaya lokal. Di wilayah lain, seperti di timur, sebutan ini tidak digunakan karena tidak termasuk dalam tradisi setempat.

Baca Juga :  Duet Ideal Jaro Ade - Anang Hermansyah di Pilbup Bogor 2024

Keberanian Seorang Jaro

Pandangan masyarakat terhadap sebutan jaro bagi kepala desa bervariasi. Ada yang melihatnya secara positif, ada pula yang negatif. Namun, di wilayah Banten, sebutan ini dikenal dan diterima secara luas.

“Seorang pemimpin, terutama kepala desa, perlu menggunakan keberaniannya untuk kebaikan. Jangan sampai masyarakat merendahkan kepala desanya, karena itu akan berimbas pada warga,” tegas Jaro Ahyar.

Sebagai penutup, Jaro Ahyar menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keberanian dan menggunakannya dengan bijak. Sebutan jaro bukan hanya gelar, tetapi juga cerminan dari sosok pemimpin yang berani dan berintegritas.