
NARASITODAY.COM, JAKARTA- Momentum Halalbihalal Idulfitri 1447 Hijriah di Rumah Dinas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi.
Di balik suasana hangat yang tercipta, forum ini menjelma menjadi ruang strategis konsolidasi lintas sektor di tengah tekanan geopolitik global dan percepatan transformasi digital.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari unsur pemerintah, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat.
Tampak di antaranya Staf Khusus Menko Perekonomian Bidang Pengembangan Industri dan Kawasan, I Gusti Putu Suryawirawan, Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie, serta Ilham Akbar Habibie.
Turut hadir pula tokoh nasional Solon Sihombing, jajaran pengurus Wushu Indonesia seperti Rudy Hutagalung dan Ronny, serta sejumlah alumni SMA Kolese Kanisius Jakarta yang merupakan rekan satu angkatan Airlangga Hartarto.
Di tengah interaksi yang berlangsung, Ketua Umum APTIKNAS dan APKOMINDO, Soegiharto Santoso (Hoky), menegaskan bahwa Halalbihalal kini telah mengalami pergeseran makna.
“Halalbihalal tidak lagi hanya seremoni. Ini adalah platform strategis untuk menyatukan arah kebijakan, memperkuat komunikasi lintas sektor, dan merespons tantangan global secara kolektif,” ujarnya.
Menurut Hoky, dalam era disrupsi teknologi, Indonesia tidak bisa bergerak secara parsial. Diperlukan kolaborasi terintegrasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas teknologi untuk memastikan transformasi digital berjalan cepat namun tetap berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan ASOCIO Digital AI Summit 2026 dinilai sebagai langkah strategis. Forum internasional yang akan digelar di Jakarta pada 29–31 Juli 2026 itu diproyeksikan menghadirkan sekitar 800 delegasi dari 24 negara di kawasan Asia–Oseania.
Deputi III Bidang Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, sebelumnya menyatakan bahwa forum ini sejalan dengan agenda nasional dalam mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang inovatif dan bertanggung jawab.
“Ini menjadi momentum memperkuat kerja sama regional sekaligus mempercepat transformasi digital Indonesia,” kata Ali.
Isu yang akan dibahas dalam forum tersebut mencakup perkembangan AI, transformasi digital lintas industri, ketahanan siber, hingga peluang kolaborasi teknologi regional. Selain sebagai forum diskusi, ajang ini juga diposisikan sebagai ruang harmonisasi kebijakan dan pertukaran praktik terbaik antarnegara.
Fenomena Halalbihalal yang berlangsung di berbagai pusat kekuasaan nasional, termasuk Istana dan kementerian, menunjukkan bahwa pendekatan budaya tetap menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas nasional. Di tengah fragmentasi geopolitik dan kompetisi ekonomi digital global, pendekatan berbasis dialog dan silaturahmi dinilai efektif sebagai bagian dari diplomasi lunak (soft diplomacy).
Dengan demikian, Halalbihalal kini tidak hanya berfungsi sebagai perekat sosial pasca-Idulfitri, tetapi juga menjadi fondasi strategis dalam memperkuat stabilitas politik, ketahanan ekonomi, serta mendorong percepatan transformasi digital Indonesia yang lebih inklusif dan adaptif.***












