NARASITODAY.COM, SARAJEVO – Air mata kembali membasahi jersei biru kebanggaan Italia. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, sang juara dunia empat kali itu harus mengubur mimpi tampil di panggung tertinggi sepak bola jagat raya. Kekalahan menyakitkan lewat adu penalti melawan Bosnia pada babak playoff, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, memastikan Azzurri hanya akan menjadi penonton di Piala Dunia 2026.
Di balik tragedi nasional ini, satu nama muncul sebagai sasaran kemarahan publik yaitu Alessandro Bastoni. Bek Inter Milan itu kini memikul beban berat sebagai sosok yang dianggap meruntuhkan dominasi Italia di lapangan hijau.
Petaka Menit ke-41
Laga awalnya tampak menjanjikan bagi skuad asuhan Gennaro Gattuso. Gol cepat Moise Kean pada menit ke-15 sempat melambungkan harapan jutaan pendukung Italia. Namun, atmosfer berubah drastis pada menit ke-41. Sebuah tekel keras Bastoni terhadap Amar Memic memaksa wasit merogoh saku belakang dan mengeluarkan kartu merah langsung.
Keputusan Bastoni melakukan pelanggaran tersebut dinilai banyak pihak sebagai langkah yang gegabah dan tidak perlu. Sejak saat itu, Italia yang bermain dengan 10 orang mulai kehilangan kendali. Bosnia berhasil menyamakan kedudukan lewat Haris Tabakovic di babak kedua, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan hingga adu penalti yang berakhir dengan skor 4-1 untuk kemenangan tuan rumah.
Serangan Digital hingga ke Ruang Pribadi
Kemarahan suporter Italia tak terbendung. Usai peluit panjang dibunyikan, jagat maya segera dibanjiri kecaman. Ironisnya, emosi suporter yang meluap tidak hanya menyasar akun pribadi Bastoni, tetapi juga merembet ke ruang pribadi keluarganya.
Istri Bastoni, Camilla Bresciani, turut menjadi sasaran perundungan atau “dirujak” oleh netizen yang kecewa. Tekanan digital yang masif ini memaksa keluarga sang pemain mengambil langkah protektif di media sosial.
“Media Corriere dello Sport menyebut, kolom komentar Bresciani juga dinonaktifkan. Hanya keluarga dan rekan terdekat yang bisa berinteraksi,” tulis laporan media Italia tersebut menggambarkan situasi mencekam di dunia maya.
Goncangan di Kursi Federasi
Kegagalan ini bukan sekadar urusan teknis di lapangan, melainkan krisis identitas bagi sepak bola Italia. Setelah absen di edisi 2018 dan 2022, kegagalan ketiga ini memicu gempa politik di internal Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
Pemerintah Italia kini secara terang-terangan mendesak Presiden Federasi, Gabriele Gravina, untuk segera menanggalkan jabatannya. Gravina dianggap gagal total karena membiarkan Italia absen dua kali beruntun di Piala Dunia sejak ia menjabat pada Oktober 2018.
Bagi publik Italia, kartu merah Bastoni mungkin adalah pemicunya, namun bobroknya sistem pembinaan dan manajemen tim nasional kini menjadi perdebatan panjang yang tidak akan selesai dalam semalam. Italia kini harus memulai dari nol, sementara Bastoni dan keluarganya terpaksa mendekam dalam sunyi di tengah badai kritik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














