NARASITODAY.COM – Populasi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) kini berada di ambang kepunahan, dengan penurunan jumlah yang sangat signifikan dalam dua dekade terakhir. Menurut data dari World Wildlife Fund (WWF), populasi gajah Sumatera telah menurun sekitar 35%, dari sekitar 2.652 individu menjadi hanya 1.724 individu.
Hal ini disebabkan oleh hilangnya habitat akibat konversi hutan menjadi lahan perkebunan dan pertanian, yang mengakibatkan fragmentasi habitat dan meningkatkan konflik antara manusia dan gajah.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, Genmann Hasibuan, mengungkapkan bahwa saat ini hanya tersisa sekitar 300 ekor gajah Sumatera di Provinsi Riau.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat banyaknya konflik yang terjadi antara gajah dan masyarakat lokal, serta ancaman perburuan liar untuk mendapatkan gadingnya,” ujar Genmann dalam konferensi pers yang diadakan baru-baru ini.
Para ahli konservasi menekankan pentingnya tindakan segera untuk melindungi spesies ini. “Jika tidak ada langkah konkret yang diambil, kita berisiko kehilangan salah satu spesies ikonik Indonesia dalam waktu dekat,” kata Dr. Carlos Drews, Direktur Program Spesies Global WWF.
Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi juga dianggap krusial untuk mengurangi konflik dan memastikan keberlangsungan hidup gajah di habitat alaminya.
Dengan semakin berkurangnya luas hutan dan meningkatnya tekanan dari aktivitas manusia, perlunya strategi mitigasi konflik antara manusia dan gajah menjadi sangat mendesak.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah penggunaan teknologi GPS Collar untuk memantau pergerakan gajah dan menghindari konflik dengan masyarakat. “Kami berharap dengan dukungan pemerintah dan lembaga konservasi, kita dapat menciptakan habitat yang aman bagi gajah Sumatera sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” pungkas Genmann.
Kondisi kritis ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan melindungi spesies yang terancam punah demi masa depan ekosistem Indonesia.***














