Rumah Warga Leuwiliang Nyaris Rata Dengan Tanah, Bantuan Tak Kunjung Datang

0
Kondisi Atap rumah tidak layak huni di Leuwiliang

NARASITODAY.COM – Sri Mulyati, warga Kampung Sukagalih RT. 003/009, Desa Karyasari, harus menelan pil pahit melihat rumahnya kini hampir rata dengan tanah.

Rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama lebih dari 21 tahun itu ambruk, menyisakan kesedihan dan harapan yang belum terjawab.

Berulang kali Sri Mulyati melaporkan kondisi rumahnya kepada Ketua RT dan RW setempat. Namun hingga kini, bantuan yang ia tunggu-tunggu tak kunjung tiba.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, rumah yang terbuat dari bilik bambu itu tak pernah direnovasi sejak awal dibangun.

“Sudah lapor RT dan RW, tapi sampai rumah rubuh belum ada bantuan apa pun. Sekarang kami hanya bisa pasrah,”ujarny.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Permudah Akses Pelayanan, Cetak e-KTP Kini Tersedia di Kecamatan

Saat dikunjungi terlihat kondisi rumah Sri Mulyati memang sudah lama memprihatinkan.

Dindingnya yang terbuat dari bilik bambu mulai bolong, tambalan koran dan karung menjadi pemandangan sehari-hari.

Atap bocor, dinding doyong, hingga lantai beralas semen kasar menjadi saksi bisu perjuangan keluarganya bertahan di tengah keterbatasan.

Jika hujan, ember-ember penuh menampung air yang menetes dari atap rumah.

Dia menyebut, karena kondisi rumah tak lagi layak huni, bersama kedua anaknya, Nanda dan Hapid, terpaksa mengungsi ke rumah kosong milik tetangga.

Rumah tersebut ia kontrak seharga Rp250 ribu per bulan dengan keringanan untuk membayar semampunya.

Baca Juga :  Polri Gelar Buka Puasa Bersama Tokoh Agama di Lokasi Pembangunan SMA Kemala Taruna Bhayangkara

“Kami bersyukur masih ada tempat berteduh. Tapi, setiap melihat kondisi rumah yang sudah rata dengan tanah, hati saya hancur,” katanya sambil menahan tangis.

Kedua anaknya, yang hanya lulusan SD, bekerja serabutan sebagai buruh kebun dan mencari rumput di peternakan tetangga. Penghasilan mereka yang tak seberapa hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Sementara Sri Mulyati sendiri menjual gorengan keliling dengan pendapatan harian Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

Kondisi ini mengundang perhatian aktivis dan tokoh masyarakat. Muhamad Ikbal, seorang aktivis dari Bogor Barat, menilai bahwa Sri Mulyati seharusnya menjadi prioritas penerima bantuan program rumah tidak layak huni (Rutilahu).

Baca Juga :  Kondisi Korban Perampokan Sadis di Bogor Mulai Membaik, Ibu Resti Sadar dan Berangsur Pulih

“Dana Rutilahu seharusnya bisa menyasar warga seperti Ibu Sri Mulyati. Kami akan mengawal persoalan ini hingga pemerintah memberikan respons nyata,” tegasnya.

Aktivis lain anggota Forum Pemudi Bogor Barat Mei, juga turut prihatin. Ia menyayangkan program Rutilahu di Desa Karyasari yang diduga tidak transparan dan tidak tepat sasaran.

“Kondisi rumah Ibu Sri Mulyati sangat memprihatinkan. Pemerintah desa harus menjadikannya prioritas dalam program Rutilahu. Jika ada indikasi penyimpangan anggaran, ini harus ditinjau ulang,” tegasnya.

Ia juga meminta Kepala Desa dan Camat Leuwiliang untuk segera mengambil tindakan. “Pihak terkait harus segera bertindak jika ada laporan seperti ini,” pungkasnya.***