NARASITODAY.COM – Kecelakaan pesawat Jeju Air dengan nomor penerbangan 7C2216 pada Minggu pagi, 29 Desember 2024, mengguncang dunia penerbangan setelah insiden tragis ini terjadi di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan.
Pesawat jenis Boeing 737-800 tersebut baru saja menyelesaikan penerbangan dari Bangkok, Thailand, dan saat mendarat mengalami kegagalan pada roda pendaratan depan, yang menyebabkan pendaratan yang sangat keras.
Insiden ini mengakibatkan sedikitnya 179 korban jiwa dari total 181 penumpang, menjadikannya salah satu kecelakaan paling mematikan dalam sejarah penerbangan Korea Selatan.
Kronologi kejadian dimulai sekitar pukul 09:07 waktu setempat, ketika pesawat berusaha mendarat setelah penerbangan selama empat setengah jam. Sebelum mendarat, menara kontrol bandara memberikan peringatan adanya tabrakan dengan burung yang diduga menjadi penyebab kerusakan pada roda pendaratan.
Saksi mata melaporkan bahwa pesawat terlihat menunjukkan tanda-tanda masalah teknis sebelum akhirnya keluar dari jalur pendaratan dan meluncur tanpa roda. Dalam prosesnya, pesawat menabrak pagar bandara dan menimbulkan ledakan besar yang disertai dengan kebakaran hebat.
Tim pemadam kebakaran dan ambulans segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan upaya penyelamatan. Namun, kondisi pesawat yang terbakar parah menyulitkan proses evakuasi para penumpang.
Meskipun dua orang berhasil selamat, jumlah korban tewas terus bertambah seiring dengan penemuan lebih banyak jenazah di lokasi kejadian. Laporan awal menyebutkan bahwa 47 orang tewas, tetapi angka tersebut diperkirakan akan meningkat seiring dengan investigasi yang berlangsung.
Dalam sebuah konferensi pers, Kementerian Tanah, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan “penyelidikan mendalam sedang dilakukan untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan ini.”
“Kami akan melakukan semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan,” kata seorang pejabat kementerian.
Pihak berwenang juga menyatakan bahwa operasional Bandara Internasional Muan dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi penyelidikan.
Wawancara dengan salah satu penumpang yang selamat, Lee Min-jun, memberikan gambaran lebih mendalam tentang pengalaman mengerikan tersebut. “Saya masih tidak percaya apa yang terjadi. Saat pesawat mendarat, saya merasakan guncangan hebat dan tiba-tiba semuanya menjadi kacau,” ujar Lee
“Kami semua berusaha untuk keluar secepat mungkin. Saya bersyukur bisa selamat, tetapi saya sangat sedih mendengar tentang teman-teman saya yang tidak berhasil,” tambahnya.
Kecelakaan ini tidak hanya menyoroti risiko yang dihadapi dalam industri penerbangan tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya keselamatan dan pengawasan yang ketat terhadap prosedur penerbangan.
Dengan banyaknya pertanyaan yang belum terjawab mengenai insiden ini, harapan kini tertuju pada hasil penyelidikan yang diharapkan dapat memberikan kejelasan dan mencegah tragedi serupa di masa mendatang.
Sebagai langkah awal, Kementerian Transportasi telah membentuk tim investigasi khusus untuk menyelidiki semua aspek dari kecelakaan ini, termasuk kondisi cuaca saat kejadian, pemeliharaan pesawat sebelumnya, serta pelatihan awak pesawat.
“Kami berkomitmen untuk transparan dalam proses investigasi ini dan akan memberikan informasi terbaru kepada publik,” kata seorang juru bicara ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel














