NARASITODAY.COM – Pada malam Natal yang seharusnya menjadi momen bahagia dan penuh harapan, tragedi mengerikan terjadi ketika seorang masinis kereta cepat di Prancis, Bruno Rejony (52), melakukan bunuh diri dengan melompat keluar dari kabin kereta yang sedang melaju dengan kecepatan 300 km/jam.
Insiden tragis ini berlangsung saat kereta berangkat dari Paris menuju Saint-Etienne, meninggalkan ratusan penumpang yang tidak menyangka akan mengalami kejadian memilukan tersebut.
Dalam waktu kurang dari satu menit setelah masinis tidak merespons, sistem otomatis kereta mendeteksi ketidakhadiran masinis dan segera mematikan mesin serta menginjak rem, mencegah terjadinya kecelakaan yang lebih fatal.
Kantor kejaksaan Melun telah membuka penyelidikan untuk menyelidiki penyebab kematian masinis tersebut, yang dikenal sebagai pengemudi berpengalaman dan dihormati setelah 27 tahun bertugas di SNCF.
Teman-teman dan kolega Rejony mengungkapkan bahwa ia adalah sosok yang berdedikasi dan profesional, tetapi belakangan ini terlihat mengalami tekanan emosional yang berat. “Dia selalu menjadi masinis yang handal dan penuh semangat. Namun, belakangan ini, saya merasa ada sesuatu yang tidak beres,” ungkap Jean-Claude, salah satu rekannya.
seorang penumpang yang berada di dalam kereta saat insiden terjadi menceritakan pengalamannya. “Kami semua terkejut ketika kereta tiba-tiba melambat dan berhenti mendadak. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ketika kami tahu apa yang sebenarnya terjadi, kami semua merasa sangat sedih dan bingung,” kata Marie Dupont, seorang penumpang.Â
Meskipun tidak ada penumpang yang terluka dalam kejadian ini, sekitar 3.000 penumpang lainnya terpaksa mengalami penundaan layanan kereta hingga lima jam akibat insiden ini. Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, menyatakan bahwa situasi ini menggugah perhatian akan pentingnya dukungan kesehatan mental bagi para pekerja di sektor transportasi.
“Kita harus memastikan bahwa para pegawai kita mendapatkan dukungan psikologis yang mereka butuhkan. Tragedi ini adalah pengingat pahit bahwa tekanan dalam pekerjaan dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang,” ujarnya dalam konferensi pers.
Dengan penyelidikan yang sedang berlangsung dan perhatian publik terhadap isu kesehatan mental di kalangan pekerja transportasi, banyak pihak berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel














