Dalam arsip tersebut, terlihat dengan jelas bagaimana masyarakat di masa itu sudah menjadikan bakso sebagai pilihan kuliner yang menggugah selera di tengah suasana Lebaran.
Makan bakso ditambah segelas es teh di siang hari pasca berpuasa selama 30 hari memberikan kenikmatan tersendiri. Setelah bersilaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara, warga berbondong-bondong mencari warung bakso, seolah bakso menjadi sajian penutup yang sempurna setelah sajian opor dan ketupat.
Fenomena ini tak hanya terjadi di masa lalu, tetapi terus berlangsung hingga kini. Warung bakso yang selalu penuh sesak dengan pengunjung menjadi pemandangan yang umum ditemui setiap Lebaran. Tak heran jika banyak orang, seperti Rugmini (57), memilih untuk berburu bakso di hari raya.
“Saya selalu makan bakso tiap tahunnya. Tiap Lebaran. Bukannya bosan ya sama makanan di rumah, tapi biar nggak jenuh lah, biar ada seger-segernya,” ujar Rugmini ketika ditemui di sebuah warung bakso di kawasan Blok F, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (10/4/2024). Baginya, bakso memberikan sensasi segar setelah menikmati hidangan berat seperti ayam dan daging.
Serupa dengan Rugmini, Sarah (25) juga memilih bakso sebagai alternatif setelah menyantap hidangan khas Lebaran. “Udah bingung makan daging mulu. Jadi alternatifnya ya bakso ini. Bikin nggak pusing,” ungkapnya.
Keinginan untuk menikmati sesuatu yang lebih ringan dan menyegarkan tampaknya menjadi alasan utama mengapa bakso tetap menjadi pilihan favorit masyarakat saat Lebaran.
Tradisi berburu bakso di hari raya, yang sudah ada sejak lebih dari empat dekade lalu, terus bertahan. Bakso bukan hanya sekadar makanan, tetapi telah menjadi bagian dari ritual Lebaran yang tak tergantikan.***