Setelah Kecelakaan Maut, Perhutani Tutup Jalur Pendakian Gunung Saeng dan Sekitarnya

0
Gunung Saeng

NARASITODAY.COM – Kabut masih kerap menyelimuti puncak Gunung Saeng, Gunung Piramid, dan Gunung Gul-gulan saat pagi menjelang di Bondowoso. Namun sejak awal Mei 2025, ketiga gunung ini tak lagi menyambut para pendaki. Bukan karena cuaca buruk musiman, melainkan keputusan resmi dari Perhutani KPH Bondowoso yang melarang aktivitas pendakian demi keselamatan jiwa.

Larangan itu keluar menyusul insiden memilukan: seorang pendaki muda asal Jember, Fahrul Hidayatullah (18), meregang nyawa setelah terjatuh ke jurang di Gunung Saeng, Kamis (1/5/2025). Tragedi itu seakan menjadi peringatan keras atas bahaya nyata yang tersembunyi di balik pesona tiga gunung tersebut.

Baca Juga :  Melly Manuhutu Pilih Tinggal di Pegunungan Setelah Dua Kali Keguguran

“Kami melarang pendakian di ketiga gunung itu,” tegas Misbakhul Munir, Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Rabu (7/5/2025), dikutip dari detikJatim.

Tiga gunung yang masing-masing terletak di Kecamatan Binakal (Saeng), Curahdami (Piramid), dan Grujugan (Gul-gulan) ini memang bukanlah kawasan wisata resmi. Belum ada fasilitas pendukung keselamatan, jalur resmi, ataupun tim penyelamat yang siaga setiap saat. Namun keindahan alaminya, terutama panorama Gunung Piramid yang unik, telah lama menarik para pendaki baik lokal maupun luar kota.

Baca Juga :  Trump Ancam Embargo Perdagangan Penuh terhadap Spanyol Atas Penolakan Pangkalan Militer

Sayangnya, kata Munir, daya tarik alam tidak sebanding dengan tingkat keselamatan yang bisa dijamin. Jalur pendakian tidak resmi, rute sempit dengan jurang di kiri dan kanan, serta kurangnya informasi topografi membuat setiap langkah mendaki bisa berubah menjadi momen terakhir.

“Secara topografi, medannya sangat terjal serta aksesnya sangat sulit. Karena kanan kiri tebing curam,” jelasnya.

Baca Juga :  Jelajahi 5 Gunung Ramah Pemula di Jawa Tengah dengan Ketinggian 2.000 mdpl

Sebagai langkah nyata, Perhutani akan memasang papan larangan di sekitar jalur masuk tiga gunung tersebut, sebagai pengingat keras bagi siapa pun yang berniat naik. Tak berhenti di situ, patroli rutin juga akan digelar, terutama di titik-titik yang selama ini kerap dijadikan pintu masuk oleh pendaki.

Langkah ini memang berat bagi sebagian pencinta alam, namun nyawa yang hilang menjadi pelajaran bahwa alam harus dihormati, bukan hanya ditaklukkan.***