NARASITODAY.COM – panggung gala dinner di Carlton Hotel Cannes tampak mewah dan penuh kilau. Di antara tamu undangan bergaun elegan, nama Syahrini sosok yang tak asing di panggung hiburan Indonesia tiba-tiba mencuri perhatian. Ia berdiri menerima sebuah penghargaan yang disebut sebagai Global Cultural Impact Award, lengkap dengan foto-foto glamor dan caption penuh rasa syukur di media sosialnya.
Namun, dalam hitungan hari, momen yang awalnya terlihat sebagai pencapaian internasional berubah menjadi sorotan penuh tanda tanya. Tak lain karena asosiasi yang diklaim yakni dari Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menuai klarifikasi resmi dari lembaga tersebut.
Melalui kantor perwakilannya di Jakarta, UNESCO merespons kabar viral tersebut dengan tegas. Dalam pernyataan resminya, lembaga internasional itu menyatakan tidak terlibat dalam pemberian penghargaan yang diterima Syahrini pada 14 Mei 2025 di Cannes.
“UNESCO tidak terlibat dalam pemberian penghargaan pada acara di Cannes yang dimaksud. Meskipun acara tersebut mungkin melibatkan UNESCO Artist for Peace dalam kapasitas pribadi atau simbolis,” bunyi pernyataan yang dirilis oleh UNESCO Regional Office Jakarta.
Pengumuman ini menjadi titik balik dari kemeriahan yang sebelumnya diklaim sebagai pengakuan dunia terhadap kontribusi Syahrini di bidang budaya. Kejelasan ini juga memantik perdebatan di media sosial, di mana netizen mempertanyakan validitas penghargaan serta siapa sebenarnya penyelenggara utama acara tersebut.
Namun, di tengah badai klarifikasi, Syahrini sendiri akhirnya angkat suara. Dalam unggahan terbarunya di Instagram, pelantun lagu “Sesuatu” itu tak menyebut langsung soal bantahan UNESCO, namun memberikan pernyataan yang menggarisbawahi makna kehadirannya di Cannes.
“Cannes lebih dari sekedar festival film, ini perayaan seni dan kecantikan,” tulisnya dalam keterangan foto yang ia unggah pada Sabtu (24/5).
Pernyataan tersebut seperti ingin menegaskan bahwa momen itu tetap punya arti personal bagi Syahrini, terlepas dari silang pendapat soal otoritas pemberi penghargaan.
Acara bertajuk Listen to Her Parole yang menjadi tempat pemberian penghargaan itu sendiri memang bukan bagian resmi dari Cannes Film Festival, melainkan rangkaian acara sosial dan budaya yang kerap digelar di sela festival besar dunia yang kerap kali menampilkan tokoh-tokoh dengan peran simbolis atau kehormatan.
Meski demikian, kejelasan dari UNESCO menyoroti pentingnya transparansi dalam penyematan gelar atau penghargaan, terlebih jika melibatkan lembaga besar sekelas PBB. Bagi publik, hal ini bukan sekadar klarifikasi institusional, tapi juga refleksi akan pentingnya literasi informasi di era digital.***














