NARASITODAY.COM, CHINA – China tengah menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sejak lebih dari enam dekade terakhir. Musim panas tahun ini tercatat sebagai yang terpanas sejak 1961, sementara wilayah utara mengalami musim hujan terpanjang dalam periode yang sama. Fenomena ini memicu banjir besar, gangguan pasokan listrik, serta tekanan serius terhadap sektor pertanian dan ekonomi nasional.
Musim Hujan dan Suhu Ekstrem Pecahkan Rekor
Dalam konferensi pers pada Selasa (9/9/2025), Wakil Direktur Badan Meteorologi China, Huang Zhou, mengungkapkan bahwa musim hujan plum dimulai lebih awal dari biasanya dan berlangsung sangat lama di wilayah utara.
“Musim hujan plum tahun ini dimulai satu minggu lebih awal dari biasanya. Curah hujan yang tinggi di wilayah utara telah berlangsung terpanjang sejak 1961,” kata Huang.
Ia juga mencatat bahwa suhu rata-rata nasional selama Juni hingga Agustus mencapai 22,3°C, naik 1,1°C dari rata-rata normal dan menyamai rekor tertinggi yang tercatat pada tahun sebelumnya.
“China mencatat total 13,7 hari dengan suhu ekstrem, 5,7 hari lebih banyak dari rata-rata historis,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Banjir Mematikan dan Dampak Sosial
Hujan deras yang mengguyur distrik Huairou dan Miyuan di utara Beijing pada akhir Juli menyebabkan banjir bandang dahsyat. Curah hujan selama sepekan setara dengan jumlah tahunan, menghancurkan desa-desa dan menewaskan 44 orang, menjadikannya banjir paling mematikan sejak 2012.
Gelombang Panas dan Ancaman Kesehatan
Selain banjir, suhu ekstrem juga menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Meskipun pemerintah belum merilis data resmi, laporan The Lancet tahun 2023 memperkirakan bahwa sebanyak 50.900 orang meninggal akibat gelombang panas di China pada 2022—dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Catatan Global: Lautan dan Atmosfer Menghangat
Secara global, Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa mencatat bahwa Agustus 2025 merupakan Agustus terpanas ketiga dalam sejarah, dengan suhu rata-rata 0,49°C lebih tinggi dibandingkan periode 1991–2020. Permukaan laut, khususnya di Pasifik utara, juga menunjukkan anomali panas yang signifikan, memecahkan rekor di berbagai wilayah.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














