
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Gencatan senjata di Jalur Gaza kembali terguncang setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran pada Selasa (28/10/2025). Serangan yang disebut-sebut sebagai perintah langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu itu menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk warga sipil dan seorang anak, menurut laporan pejabat kesehatan Gaza.
Langkah militer Israel ini menjadi pukulan berat bagi kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Serangan tersebut juga memicu pertanyaan serius mengenai komitmen Washington dalam menegakkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
“Semua mata kini tertuju pada Washington,” ujar Yousef Munayyer, Direktur Program Palestina/Israel di Arab Center Washington DC, seperti dikutip dari The Intercept. “Apakah mereka akan bersikap adil, atau sekali lagi membiarkan Israel lolos dari tanggung jawab seperti sebelumnya?”
Menurut laporan Associated Press, Israel telah memberi tahu pemerintahan Trump sebelum serangan dilakukan. Namun, Wakil Presiden JD Vance tidak mengecam aksi tersebut, malah menyebutnya sebagai “pertempuran kecil di sana-sini” dan menegaskan bahwa “gencatan senjata masih berlaku.”
Serangan Israel menyasar berbagai titik strategis di Gaza, termasuk halaman Rumah Sakit al-Shifa, kompleks apartemen, serta wilayah Khan Younis dan Deir al-Balah. Israel mengklaim serangan dilakukan sebagai respons atas tembakan dari pejuang Hamas di Gaza selatan, meski klaim ini dibantah oleh pihak Hamas.
“Jika Israel benar-benar berniat membawa pulang sandera mereka, mereka akan memfasilitasi prosesnya, bukan justru menghancurkan upaya di lapangan dengan serangan semacam ini,” kata Ramy Abdu, Ketua Euro-Mediterranean Human Rights Monitor.
Hamas menyatakan telah memulangkan seluruh sandera hidup dalam waktu 72 jam sesuai kesepakatan, serta mengembalikan 15 dari 28 jenazah warga Israel. Namun, Israel menuduh Hamas menunda pemulangan sisa jenazah, sementara Palang Merah menyebut masih dalam proses koordinasi dengan kedua pihak.
Di tengah konflik yang terus memanas, Israel memperketat blokade terhadap Gaza, menutup perlintasan Rafah, dan melanjutkan serangan ke wilayah sipil. Serangan sebelumnya pada 19 Oktober bahkan menewaskan sedikitnya 26 warga Palestina, termasuk pengungsi di sekolah Nuseirat.
“Ini strategi lama,” kata Abdu. “Mereka mendorong Palestina untuk bereaksi agar punya alasan melanjutkan serangan.”
Munayyer menilai bahwa pola tindakan Israel tidak jauh berbeda dari gencatan senjata sebelumnya.
“Israel menahan sandera untuk meredam kemarahan publiknya sendiri, lalu memulai kembali serangan ke Gaza begitu situasi agak tenang,” ujarnya.
Tekanan internasional terhadap Israel pun meningkat. Uni Eropa, Inggris, Prancis, Kanada, dan Australia dikabarkan tengah mempertimbangkan sanksi atau pengakuan resmi terhadap negara Palestina jika kekerasan tidak segera dihentikan.
“Israel kini berupaya menciptakan narasi bahwa Hamas yang melanggar gencatan senjata,” kata Munayyer. “Pertanyaannya: apakah komunitas internasional akan kembali mempercayainya?”
Serangan ini memperburuk situasi di tengah gencatan senjata yang rapuh. Sejak konflik meletus pada 7 Oktober 2023, lebih dari 68.000 warga Gaza dilaporkan tewas akibat serangan Israel, sementara korban di pihak Israel mencapai lebih dari 1.200 orang.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber











