Hujan 300 Tahun Terparah! 183 Meninggal, Jalan Raya Tenggelam Longsor

0
Longsor
Korban banjir dan longsor di Sumatera Utara terus bertambah menjadi 43 jiwa, dengan total 212 warga terdampak dan 1.168 orang mengungsi.Foto : Polda Sumut

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Jumlah korban tewas akibat bencana banjir dan longsor parah yang melanda sebagian besar kawasan Asia Tenggara telah meningkat menjadi setidaknya 183 orang pada Jumat (28/11/2025).

Banjir ini dipicu oleh hujan deras dan siklon selama sepekan terakhir yang menyapu wilayah Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Siklon terpisah di Sri Lanka juga dilaporkan menewaskan 46 orang.

Pemerintah di berbagai negara terdampak kini berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi warga, memulihkan jaringan listrik dan komunikasi, serta mempercepat operasi pemulihan setelah air mulai surut di beberapa area.

Indonesia menjadi negara dengan jumlah korban tewas terbanyak dari kawasan Asia Tenggara, dengan 94 orang meninggal di pulau Sumatra yang paling terdampak. Data ini dihimpun dari tiga pemerintah provinsi pada Jumat siang.

Baca Juga :  Hujan dan Angin Kencang Lukai Bangunan dan Pohon di Enam Kelurahan Bogor

Di Kabupaten Padang Pariaman, yang mencatat 22 korban jiwa, ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter, dan banyak warga masih belum dijangkau oleh tim SAR. Kondisi ini diperburuk oleh terputusnya pasokan logistik.

“Kami kehabisan persediaan dan makanan,” ujar Muhammad Rais, warga berusia 40 tahun, yang terpaksa mengungsi ke lantai dua rumahnya sejak Kamis akibat air yang terus naik.

Juru bicara BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa sebagian wilayah Sumatra masih mengalami gangguan komunikasi. Pemerintah bekerja keras memulihkan aliran listrik dan membuka akses jalan yang tertimbun material longsor. Ia menambahkan bahwa bantuan dan personel penyelamat akan terus diterjunkan melalui jalur udara sepanjang Jumat untuk mencapai lokasi-lokasi terisolasi.

Baca Juga :  Banjir Longsor Mematikan, Siklon Ditwah Curi 334 Jiwa dan Hancurkan Sri Lanka

Pemerintah Thailand melaporkan 87 orang tewas akibat banjir yang melanda delapan provinsi di wilayah selatan. Bencana ini telah berdampak pada lebih dari 3,5 juta warga.

Di kota Hat Yai, salah satu wilayah terparah, hujan mulai mereda pada Jumat, namun banjir setinggi mata kaki masih terlihat, dan listrik belum pulih sepenuhnya. Warga baru mulai menaksir kerusakan besar yang terjadi selama sepekan. Seorang warga mengungkapkan telah “kehilangan segalanya.”

Bahkan warga yang rumahnya tidak terendam langsung merasakan dampaknya karena akses terputus, menciptakan kondisi terisolasi.

“Semua hal jadi terdampak bagi kami, dalam segala hal,” kata Somporn Petchtae, 52 tahun. “Rumah saya tidak banjir, tetapi saya terjebak seperti berada di pulau karena tidak bisa ke mana-mana,” tambahnya, menggambarkan dampak luas bencana ini terhadap mobilitas dan ekonomi lokal.

Baca Juga :  GP Ansor Kabupaten Bogor Gelar PKD ke-24, Cetak Kader Pemimpin di Harlah NU ke-102

Di Malaysia, dua orang dilaporkan tewas akibat badai. Meskipun Badai Tropis Senyar yang mendarat tengah malam telah melemah, otoritas meteorologi masih bersiaga menghadapi risiko hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Jumlah pengungsi yang masih berada di pusat evakuasi tercatat 30.000 orang, turun dari lebih dari 34.000 pada hari sebelumnya.

Dalam upaya regional, Kementerian Luar Negeri Malaysia mengumumkan telah mengevakuasi 1.459 warga Malaysia yang terjebak di lebih dari 25 hotel terdampak banjir di Thailand. Pemerintah memastikan upaya penyelamatan sekitar 300 warga lainnya yang masih berada di zona banjir akan terus dilanjutkan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber