Misterius dari Belarus Kembali Serang, Bandara Vilnius Lumpuh Total​

0
Bandara Vilnius
Ilustrasi Bandara Vilnius. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, VILNIUS — Bandara Vilnius di Lithuania, yang merupakan negara anggota Uni Eropa (EU) dan NATO, terpaksa menghentikan operasional penerbangannya pada hari Rabu (04/12/2025). Penutupan ini dipicu oleh dugaan adanya balon-balon misterius yang melayang di wilayah udara bandara.

Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi operator Bandara Vilnius menyatakan ini adalah insiden kedua pada hari itu saja dan yang kesepuluh kalinya sejak awal Oktober. Lithuania menuduh balon-balon ini dikirim oleh penyelundup rokok dari negara tetangga, Belarus.

Namun, tuduhan Vilnius melangkah lebih jauh, menyalahkan Presiden Belarus Alexander Lukashenko, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, atas kekacauan tersebut.

“Belarus tidak menghentikan bentuk serangan hibrida,” tutur pihak Lithuania, menggambarkan insiden ini sebagai bagian dari konflik yang lebih luas.

Baca Juga :  Divhumas Polri Gandeng Lintas Sektor Hadapi Tantangan Digital

Bandara Vilnius hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Belarus. Ketegangan antara Lithuania negara Baltik yang menjadi garis depan NATO dengan Belarus dan Rusia memang telah memanas. Wilayah ini menjadi titik gesekan langsung yang krusial antara Blok Barat dan Moskow.

Lithuania secara konsisten menuduh Belarus melakukan provokasi yang disengaja. Insiden balon di bandara merupakan salah satu manifestasi dari apa yang disebut Lithuania sebagai ‘perang hibrida’.

Taktik hibrida mencakup tindakan non-militer seperti propaganda disinformasi, serangan siber, dan eksploitasi migran di perbatasan, yang dirancang untuk mengacaukan stabilitas nasional dan politik di negara-negara anggota EU dan NATO tanpa memicu konflik militer terbuka.

Baca Juga :  Keamanan Bandara Dipertanyakan Setelah Pejalan Kaki Tertabrak Pesawat Saat Lepas Landas

Lukashenko sendiri menuding balik bahwa negara-negara Barat lah yang sedang melancarkan perang hibrida terhadap Belarus dan Rusia, menunjukkan betapa runcingnya situasi ini.

Sebagai anggota NATO, Lithuania berada di bawah payung Pasal 5 yang menjamin pertahanan kolektif. Setiap eskalasi, sekecil apa pun, di wilayah perbatasan ini diawasi ketat oleh seluruh aliansi, mengingat potensi dampaknya yang dapat meluas ke seluruh Eropa.

Latar belakang ketegangan ini semakin tajam dengan ancaman keras yang dilayangkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Eropa. Putin memberikan apa yang disebutnya sebagai ‘ultimatum perang’, memperingatkan negara-negara Eropa agar berhati-hati dengan kebijakan anti-Rusia mereka.

Putin secara eksplisit mengancam konsekuensi serius jika dukungan terhadap Ukraina terus berlanjut dan mengganggu kepentingan keamanan Rusia.

Baca Juga :  Harga Galaxy A56 5G Turun! Fitur AI-nya Bikin Ponsel Ini Makin Worth It di 2025

“Jika Eropa tiba-tiba ingin memulai perang dengan kami dan memulainya maka perang itu akan berakhir begitu cepat bagi Eropa sehingga Rusia tidak akan memiliki siapa pun lagi untuk bernegosiasi,” ujarnya, dimuat Rabu (3/12/2025), memberikan tekanan verbal yang sangat tinggi terhadap stabilitas regional.

Sementara itu, Uni Eropa merespons agresi dan ancaman ini dengan memperkuat sanksi ekonomi. Uni Eropa telah sepakat untuk menerapkan paket sanksi terbaru yang bertujuan mengurangi pendapatan Rusia, termasuk larangan ekspor teknologi kritis dan pembatasan yang dirancang untuk membuat barang Rusia tak laku di pasar global, khususnya yang menyasar sektor energi dan industri pertahanan Moskow.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com