NARASITODAY.COM, JAKARTA – Peringatan soal bahaya ultra-processed foods (UPF) kembali disorot. Sejumlah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet menunjukkan bahwa konsumsi UPF terus meningkat di seluruh dunia dan berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap berbagai masalah kesehatan besar.
Selama beberapa tahun terakhir, UPF—yang termasuk dalam kategori ke-4 Klasifikasi NOVA—telah lama dikaitkan dengan gangguan mikrobioma usus, diabetes tipe 2, hingga peningkatan angka kematian. UPF sendiri mencakup produk makanan industri dengan banyak bahan tambahan, seperti makanan beku, camilan kemasan, soda, sereal manis, hingga roti komersial.
Konsumsi UPF Meningkat, Risikonya Juga Naik
Makalah terbaru The Lancet menyoroti bahwa pola makan berbasis UPF makin dominan di berbagai negara. Di Amerika Serikat dan Inggris, lebih dari 50% konsumsi makanan rumah tangga berasal dari UPF. Kenaikan serupa juga terjadi di Spanyol, China, Meksiko, dan Brasil.
Prof. Carlos A. Monteiro dari Universitas São Paulo menjelaskan bahwa perubahan pola makan global ini didorong oleh pemasaran agresif perusahaan besar serta lobi politik yang menghambat kebijakan kesehatan masyarakat.
“UPF menggeser makanan segar, sehingga mengubah pola makan dunia secara drastis,” ujarnya.
UPF Terkait dengan 12 Risiko Penyakit Serius
Dari 104 studi jangka panjang yang dianalisis, 92 di antaranya menunjukkan hubungan kuat antara konsumsi UPF dan meningkatnya risiko 12 kondisi kesehatan utama, seperti:
- obesitas abdominal
- penyakit jantung koroner
- stroke
- penyakit ginjal kronis
- depresi
- hipertensi
- kanker tertentu
- diabetes tipe 2
- hingga angka kematian yang lebih tinggi
Mir Ali, MD, ahli bedah bariatrik dari California, menyebutkan bahwa dokter di berbagai bidang kini semakin sering melihat dampak buruk UPF pada pasien.
“Dengan bukti yang makin kuat, penting bagi masyarakat memahami kenapa UPF perlu dibatasi,” jelasnya.
Seruan untuk Kebijakan dan Edukasi Global
Makalah kedua dalam seri penelitian itu menilai bahwa perlu adanya kebijakan internasional yang mengatur produksi serta pemasaran UPF. Sementara makalah ketiga menekankan perlunya respons kesehatan masyarakat yang lebih besar untuk menghadapi lonjakan konsumsi UPF secara global.
Para peneliti menegaskan bahwa perubahan kebiasaan makan dan edukasi publik menjadi kunci untuk menekan dampak negatif jangka panjang dari konsumsi UPF. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














