Benin Hadapi Ketegangan Politik Menjelang Pemilu Pasca Kudeta Gagal

0
Kudeta
Ilustrasi tangan diborgol. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, COTONOU – Pemerintah Benin, salah satu negara di Afrika Barat, berhasil menggagalkan upaya kudeta yang berlangsung singkat pada Minggu (7/12/2025). Insiden dramatis terjadi ketika sekelompok tentara muncul bersenjata di televisi nasional, mengklaim telah mengambil alih kekuasaan, dan sontak memicu kepanikan di Cotonou, pusat ekonomi negara tersebut.

Setidaknya delapan tentara tampil di layar TV pemerintah untuk mengumumkan pembentukan komite militer yang dipimpin oleh Kolonel Tigri Pascal. Mereka menyatakan telah membubarkan lembaga negara, menangguhkan konstitusi, dan menutup perbatasan, menjanjikan era baru bagi rakyat Benin.

“Tentara berkomitmen memberikan rakyat Benin era baru di mana persaudaraan dan keadilan berjaya,” ujar salah satu prajurit dalam siaran tersebut, seperti dikutip Reuters, Senin (8/12/2025).

Baca Juga :  Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas Tandatangani Amendemen UU Pemilu yang Larang Hamas Berpartisipasi

Namun, suasana pengambilalihan kekuasaan itu hanya berlangsung beberapa jam. Menteri Dalam Negeri, Alassane Seidou, segera mengonfirmasi bahwa kudeta tersebut berhasil digagalkan oleh pasukan loyalis Presiden Patrice Talon. Pemerintah mengonfirmasi 14 orang telah ditangkap terkait upaya kudeta yang diklaim hanya melibatkan “sekelompok kecil” tentara tersebut.

Menteri Luar Negeri Olushegun Adjadi Bakari menjelaskan bahwa kelompok tentara itu hanya sempat menguasai siaran televisi sebelum jaringan diputus. TV pemerintah kemudian kembali normal, dan otoritas segera mengumumkan bahwa situasi telah terkendali.

“Pemerintah menghimbau masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa,” ujar Seidou, berusaha menenangkan warga.

Secara internasional, upaya kudeta ini langsung menuai kecaman keras dari Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) dan Uni Afrika.

Baca Juga :  Konflik di Selat Hormuz Ancam Ekosistem Laut, Ribuan Kapal dan Risiko Tumpahan Minyak Jadi Sorotan

Di berbagai wilayah Cotonou, ibu kota ekonomi yang vital, warga melaporkan mendengar suara tembakan pada Minggu pagi. Kedutaan Besar Prancis mengonfirmasi adanya penembakan di dekat kediaman Presiden Talon dan mengimbau warganya untuk tetap di dalam rumah. Polisi dikerahkan ke sejumlah titik utama kota, namun situasi berangsur tenang menjelang sore hari.

Ketegangan yang terjadi pada pagi hari mencerminkan ketakutan masyarakat yang telah lama hidup dalam stabilitas politik.

“Saya takut dan langsung menutup toko. Sekarang lebih tenang, jadi saya buka lagi,” kata Narcisse, seorang penjual furnitur di area tersebut, menggambarkan transisi cepat dari panik ke normalisasi.

Upaya kudeta ini berlangsung menjelang pemilihan presiden pada April mendatang, yang menandai berakhirnya masa jabatan Presiden Patrice Talon sejak 2016.

Baca Juga :  Saat Pulau Tenggelam, Warga Tuvalu Mengarungi Harapan Lewat Visa Iklim

Benin kini menghadapi tantangan keamanan yang serius, terutama meningkatnya serangan kelompok jihadis di wilayah utara. Pada April lalu, pemerintah mencatat 54 tentara tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan kelompok afiliasi Al Qaeda.

Secara politik, negara itu juga baru saja mengesahkan konstitusi baru yang memperpanjang masa jabatan presiden dari lima menjadi tujuh tahun. Kebijakan ini menuai kritik tajam dari pihak oposisi, yang menilainya sebagai upaya memperkuat kekuasaan menjelang pemilu.

Meskipun Benin pernah mengalami beberapa kudeta antara tahun 1960-1990, negara ini relatif stabil sejak pemilu multipartai 1991 hingga insiden terbaru ini, menjadikannya pengecualian yang mengkhawatirkan di kawasan yang memang rawan gejolak militer.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com