NARASITODAY.COM, BOGOR- Gedung SD Negeri Ciketug yang berada di Kampung Pangkalan RT 02 RW 06, Desa Pangkaljaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, ambruk pada Senin (22/12/2025) sekitar pukul 18.30 WIB.
Bangunan yang ambruk meliputi tiga ruang kelas, satu ruang kantor, dan satu dapur. Seluruh ruangan tersebut rusak parah setelah penopang atap dan genteng runtuh, menyisakan puing-puing bangunan.
Kepala SD Negeri Ciketug, Mursyid, mengatakan kejadian itu terjadi usai waktu magrib. Saat peristiwa berlangsung, dirinya tidak berada di lokasi.
“Kejadiannya habis magrib. Saya waktu itu di rumah, jadi tidak tahu persis detiknya,” ujar Mursyid saat ditemui, Selasa (23/12/2025).
Ia mengaku mendapat kabar dari para guru tak lama setelah kejadian. Mendapat informasi tersebut, ia langsung menuju sekolah.

“Dapat info dari guru, saya langsung meluncur ke sekolah. Pas sampai, bangunan sudah ambruk,” katanya.
Menurut Mursyid, bangunan yang roboh terdiri dari ruang kantor, ruang kelas 1, kelas 2, kelas 5, serta dapur. Total ada lima ruangan yang terdampak.
Untuk sementara, proses belajar mengajar akan tetap berjalan dengan memanfaatkan bangunan yang masih berdiri. Namun, jumlah ruang yang tersedia sangat terbatas.
“Yang masih bisa dipakai itu cuma tiga ruang. Kemungkinan pembelajaran akan dibagi jadi sistem shift,” ujarnya.
Meski demikian, sistem shift dinilai bukan solusi ideal. Pasalnya, para siswa sudah terbiasa belajar di pagi hari.
“Itu juga jadi kendala. Anak-anak biasanya masuk pagi, walaupun di-shift tetap berat,” katanya.
Sebagai alternatif, pihak sekolah mempertimbangkan penggunaan tenda darurat atau musala agar kegiatan belajar tetap berlangsung.
“Mungkin kita pakai tenda di sini atau musala, yang penting anak-anak tetap bisa belajar,” ucapnya.
Beruntung, dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa. Saat gedung ambruk, siswa memang sedang libur sejak Jumat sebelumnya, sehingga tidak berdampak langsung pada keselamatan murid.
Diketahui, gedung SD Negeri Ciketug dibangun pada tahun 2008. Saat ini sekolah tersebut memiliki 229 siswa yang terbagi dalam 9 rombongan belajar.
Ironisnya, jumlah ruang kelas hanya tersedia enam, sehingga sejak awal sudah kekurangan tiga ruang kelas.
“Kondisi bangunan yang ada juga sebenarnya sudah rusak parah,” kata Mursyid.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk membangun ulang atau merehabilitasi gedung sekolah tersebut.
“Harapan kami tentu ingin segera dibangun atau diperbaiki. Kalau dibiarkan, kasihan anak-anak,” pungkasnya.
Wartawan : Andreas














