NARASITODAY.COM, BEIJING – Guncangan politik yang melanda Amerika Latin, China akhirnya memecah keheningan. Dengan nada dingin namun tegas, Beijing menyampaikan kegeramannya atas langkah Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah dunia dikejutkan oleh foto-foto Maduro yang tampak diborgol dan matanya ditutup rapat saat dibawa ke pusat penahanan di New York.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, memilih momen pertemuannya dengan Menlu Pakistan, Ishaq Dar, pada Minggu (4/1/2026) untuk melayangkan serangan diplomatik. Tanpa perlu menyebut nama Amerika Serikat secara langsung, sindiran Wang Yi mengarah tajam pada ambisi Washington yang seolah tak tersentuh hukum internasional.
Wang Yi menegaskan bahwa tatanan global tidak boleh ditentukan oleh kekuatan satu negara saja. Ia menekankan pentingnya kedaulatan yang setara bagi setiap bangsa.
“Kami tidak pernah percaya bahwa ada negara yang bisa bertindak sebagai polisi dunia, dan kami juga tidak menerima klaim negara mana pun sebagai hakim dunia,” ujar Wang Yi dengan lugas. Ia menambahkan bahwa “kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Bagi China, penangkapan Maduro adalah ujian nyata bagi “kemitraan strategis komprehensif segala cuaca” yang baru saja mereka perkuat bersama Venezuela pada 2023 lalu sebuah hubungan yang telah dibangun selama hampir setengah abad.
Di balik tirai diplomasi, Beijing tampak terpukul. Hanya beberapa jam sebelum penangkapan dramatis itu terjadi, utusan khusus China untuk Amerika Latin, Qiu Xiaoqi, dilaporkan masih bertemu dengan Maduro. Kehadiran putra Maduro di Universitas Peking pada 2024 juga menjadi simbol betapa eratnya hubungan personal dan pendidikan antara elite kedua negara.
Seorang pejabat pemerintah China yang mengetahui isi pertemuan terakhir tersebut mengakui adanya guncangan dalam posisi tawar China. “Itu pukulan besar bagi China. Kami ingin tampil sebagai sahabat yang dapat diandalkan bagi Venezuela,” ungkapnya.
Analis melihat bahwa keberanian China menantang langkah AS ini didorong oleh rasa percaya diri yang meningkat setelah mereka berhasil mengimbangi Washington dalam negosiasi perdagangan. Namun, rencana Donald Trump untuk mengambil alih pemerintahan Venezuela secara sementara menjadi hambatan serius bagi ambisi China untuk menjadi mediator perdamaian global yang dominan.
Saat Maduro bersiap menghadapi meja hijau di New York pada Senin ini atas tuduhan narkotika, Beijing kini berdiri di persimpangan: mempertahankan kesetiaan pada sekutu lamanya atau menjaga stabilitas hubungan global yang kian rapuh.***














