
NARASITODAY.COM, BRUSSELS – Ruang-ruang pertemuan di Brussels kini dilingkupi atmosfer yang jauh lebih dingin bagi Teheran. Uni Eropa semakin dekat untuk mengambil langkah drastis yang menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Kepastian ini menguat setelah Prancis, yang selama ini menjadi rem bagi kebijakan tersebut, akhirnya memutuskan untuk berbalik arah.
Pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa pada Kamis (29/1/2026) diprediksi akan menjadi babak baru dalam hubungan diplomatik kedua wilayah. Agenda utamanya jelas ia meresmikan sanksi berat atas dugaan represi berdarah terhadap demonstrasi rakyat Iran yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Keberanian Rakyat Iran yang Mengubah Paris
Perubahan sikap Prancis yang dramatis ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot melalui platform X. Paris kini bergabung dengan barisan Berlin dan Roma yang sudah lebih dulu menyatakan dukungan.
“Prancis akan mendukung penetapan Korps Garda Revolusi Islam ke dalam daftar organisasi teroris Uni Eropa,” tulis Barrot dengan tegas.
Barrot menjelaskan bahwa perubahan haluan ini didasari oleh realitas lapangan yang tak lagi bisa ditoleransi. Ia menyoroti kontras antara kekerasan aparat dan keberanian warga sipil di Teheran.
“Represi yang tak tertahankan terhadap pemberontakan damai rakyat Iran tidak bisa dibiarkan tanpa jawaban. Keberanian luar biasa yang mereka tunjukkan dalam menghadapi kekerasan membabi buta yang dilepaskan kepada mereka tidak boleh sia-sia,” tegas Barrot.
Taruhan Diplomatik di Balik Jeruji
Langkah Prancis ini bukan tanpa risiko. Sebelumnya, Paris menjadi pihak yang paling berhati-hati karena khawatir akan terjadi pemutusan total hubungan diplomatik. Kekhawatiran terbesar mereka menyangkut nasib warga negara Eropa di Teheran, termasuk dua warga Prancis yang saat ini masih berlindung di kedutaan setelah sempat merasakan dinginnya penjara Iran tahun lalu.
Namun, di tengah gelombang protes paling berdarah sejak revolusi 1979, para diplomat Eropa merasa diplomasi lunak tidak lagi memiliki tempat. Peran sentral IRGC yang menguasai ekonomi, kekuatan militer, hingga program rudal Iran, dinilai sudah melampaui batas pertahanan negara.
Metafora Bebek dan Langkah Akhir
Bagi para diplomat yang mendukung pelabelan ini, aktivitas IRGC di dalam maupun luar negeri sudah sangat jelas menyerupai pola terorisme. Sebuah analogi sederhana namun tajam beredar di lorong-lorong diplomasi Brussels untuk menggambarkan situasi ini.
“Jika ia berjalan seperti bebek dan berbunyi seperti bebek, maka kemungkinan besar itu memang bebek, dan sudah seharusnya disebut seperti itu,” ujar seorang diplomat Eropa.
Meskipun dukungan dari tiga kekuatan besar (Prancis, Jerman, Italia) sudah di tangan, keputusan akhir pada pertemuan Kamis nanti tetap menuntut kesepakatan bulat dari seluruh 27 negara anggota Uni Eropa. Jika disahkan, Uni Eropa akan resmi menyusul jejak Amerika Serikat, sekaligus menutup pintu negosiasi manis dengan organisasi paling berkuasa di Iran tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













