NARASITODAY.COM, MANILA – Awan mendung seolah enggan beranjak dari langit ekonomi Filipina. Sepanjang tahun 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) negara tetangga ini tercatat hanya tumbuh 4,4%, sebuah angka yang menandai performa tahunan terlemah dalam hampir 15 tahun terakhir, di luar masa kelam pandemi Covid-19.
Realisasi ini menjadi pukulan telak bagi Manila, mengingat target ambisius pemerintah sebelumnya dipatok pada kisaran 5,5% hingga 6,5%. Ketidakpastian global dan dampak tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) yang semula dikhawatirkan, kini benar-benar menjelma menjadi tekanan nyata pada angka-angka statistik nasional.
Pukulan Cuaca dan Skandal Korupsi
Dinamika ekonomi Filipina tidak hanya dihantam dari luar, tetapi juga digerogoti dari dalam. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan melambat drastis menjadi hanya 3,0%, terjun bebas dibandingkan 5,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, mengungkapkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan penghambat utama roda ekonomi. Amukan cuaca ekstrem telah berkali-kali melumpuhkan aktivitas warga.
“Gangguan terkait cuaca dan iklim telah berdampak signifikan, mulai dari hilangnya hari kerja hingga penutupan sekolah, yang pada akhirnya menekan permintaan domestik,” ujar Balisacan kepada wartawan, Kamis (29/1/2026).
Namun, faktor alam bukan satu-satunya terdakwa. Kepercayaan pasar juga terguncang hebat akibat skandal proyek infrastruktur fiktif yang terungkap setelah pidato kenegaraan Presiden Ferdinand Marcos Jr. Juli lalu. Penyelidikan atas proyek pengendalian banjir bodong ini membuat sektor konstruksi yang biasanya menjadi mesin pertumbuhan justru bergerak mundur.
“Penyelidikan skandal korupsi proyek pengendalian banjir juga membebani kepercayaan dunia usaha dan konsumen,” tambah Balisacan.
Menatap Reformasi di 2026
Laporan menunjukkan bahwa pengeluaran sektor konstruksi anjlok drastis setelah kasus ini mencuat. Dugaan keterlibatan pejabat tinggi dan pemilik perusahaan konstruksi dalam penipuan senilai miliaran dolar AS telah menciptakan lubang besar dalam neraca keuangan negara.
Meski terjepit di antara krisis iklim dan krisis integritas, pemerintah Filipina menolak untuk menyerah. Balisacan menegaskan bahwa upaya “bersih-bersih” birokrasi yang sedang berlangsung saat ini adalah investasi jangka panjang untuk memulihkan kepercayaan investor pada 2026.
“Langkah-langkah reformasi ini penting untuk memperkuat akuntabilitas, meningkatkan kualitas proyek, memastikan nilai optimal dari sumber daya publik yang terbatas, serta membangun fondasi pertumbuhan yang lebih cepat dan berkelanjutan ke depan,” pungkasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














