NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Jagat maya Amerika Serikat kembali menjadi medan tempur politik yang panas. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, kini berada di pusaran kecaman keras dari politisi Partai Republik setelah sebuah unggahannya di media sosial dinilai menyiratkan seruan kekerasan terhadap Presiden Donald Trump.
Ketegangan ini bermula saat Omar menanggapi video Trump yang mengkritik jaringan penipuan di Minnesota. Omar, legislator kelahiran Somalia yang mewakili Minnesota, membalas dengan menuding Trump berusaha mengalihkan isu terkait kemunculan namanya dalam dokumen mendiang Jeffrey Epstein.
Pernyataan yang Memicu Amarah
Dalam unggahan di akun X miliknya, Omar melontarkan kalimat tajam yang langsung memicu reaksi berantai dari kubu lawan.
“Pemimpin Partai Perlindungan Pedofil mencoba mengalihkan perhatian dari namanya yang tersebar di seluruh berkas Epstein,” tulis Omar sebagaimana dikutip pada Jumat (13/2/2026). Ia kemudian menambahkan kalimat yang menjadi inti kontroversi: “Setidaknya di Somalia mereka mengeksekusi pedofil, bukan memilih mereka.”
Frasa mengenai “eksekusi” inilah yang dianggap oleh Partai Republik Pennsylvania telah melampaui batas kewajaran politik. Dalam pernyataan resminya pada Rabu waktu setempat, mereka menegaskan bahwa menyerukan eksekusi terhadap pejabat federal bukan sekadar retorika, melainkan tindak pidana menurut hukum AS. Mereka mendesak Partai Demokrat untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka sebut sebagai ancaman terhadap keselamatan presiden.
Serangan Balik dan Konteks Dokumen Epstein
Kubu Republik tidak tinggal diam. Akun RNC Research menuding Omar bersikap “sembrono” karena dianggap mendorong eksekusi terhadap Trump. Mereka juga menyerang balik dengan menyinggung isu pernikahan anak di Somalia, meski tidak secara langsung membantah label “pedofil” yang disematkan Omar kepada Trump.
Di balik perang urat saraf ini, latar belakang yang disinggung Omar adalah rilis terbaru dari Departemen Kehakiman AS. Lebih dari tiga juta berkas terkait kasus pelecehan seksual Jeffrey Epstein kini telah terbuka untuk publik.
Faktanya, nama Trump memang muncul ribuan kali dalam korespondensi tersebut. Beberapa dokumen menunjukkan bahwa kontak Trump dengan Epstein terjadi lebih sering daripada yang pernah diakui sebelumnya. Namun, hingga saat ini, pihak otoritas menyatakan belum ada bukti kuat yang mengaitkan Trump dengan kejahatan seksual terhadap anak.
Antara Tuduhan dan Bantahan
Dokumen tersebut memang memuat pengaduan anonim ke FBI pada tahun 2020 yang menuduh Trump melakukan pelecehan seksual dan terlibat pembunuhan. Namun, Departemen Kehakiman AS telah membantah klaim tersebut, menyebutnya sebagai upaya sensasional untuk mencemarkan nama baik menjelang pemilu kala itu. Ada pula catatan yang menguntungkan Trump, di mana ia pernah menyatakan kepada polisi Florida bahwa ia senang Epstein akhirnya “dihentikan”.
Hingga berita ini diturunkan, Ilhan Omar belum menerima teguran resmi dari internal Partai Demokrat. Di Capitol Hill, insiden ini semakin memperlebar jurang polarisasi, di mana sebuah cuitan bisa seketika berubah menjadi ancaman keamanan nasional di mata lawan politik.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














