Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadan, Cabai Rawit Naik Signifikan di Berbagai Wilayah

0
pasar
Ilustrasi Cabai merah segar .Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA — Semarak jelang bulan suci Ramadan tahun ini dibayangi oleh kepulan asap inflasi dapur. Tekanan harga pangan mulai terasa menghantam kantong masyarakat, dengan tekanan paling kentara terjadi pada komoditas cabai rawit yang harganya melambung tak terkendali di berbagai wilayah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian tanpa pola. Ia melihat adanya siklus musiman yang berulang, di mana geliat permintaan terhadap bahan pokok meningkat drastis seiring momen keagamaan.

“Ini sangat menunjukkan karakteristik dari fenomena bulan Ramadan yang memerlukan banyak kebutuhan terhadap bahan pokok seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, daging sapi serta beras dan bawang merah. Ini mengalami peningkatan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH untuk komoditas ini,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi di Kemendagri, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga :  Gak Bakal Lemes! 5 Cara Ampuh Menahan Lapar Saat Puasa Ramadan, Agar Ibadah Lebih Khusyuk dan Semangat

Gejolak harga kini meluas, tak lagi sporadis. Ratusan wilayah tercatat mengalami peningkatan Indeks Perubahan Harga (IPH), menandakan bahwa mahalnya cabai bukan lagi isolasi di satu daerah, melainkan sudah merata secara nasional.

Amalia merinci, rata-rata harga di tingkat nasional sudah menembus angka psikologis yang mengkhawatirkan. “Cabai rawit harganya sudah di atas batas atas HAP (Harga Acuan Penjualan) secara nasional rata-rata mencapai Rp70.000 per kilo dan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH ada 221, di mana harga tertinggi Rp200.000 dan harga terendah Rp26.111,” jelasnya.

Baca Juga :  DPD KNPI Kabupaten Bogor Diguncang Klaim Caretaker, Yoga Triana Tegaskan Kepemimpinan Sah Wahyudi Chaniago

Titik ekstrem lonjakan harga berada di Indonesia timur, memperlihatkan jurang distribusi dan akses logistik yang belum sepenuhnya terjembatani. “Pastinya tertinggi adalah di daerah di Papua seperti Nduga, Mappi, dan Intan Jaya,” kata Amalia.

Namun, aksi harga tak hanya terjadi di ujung timur. Jawa Timur, salah satu lumbung pangan, juga ikut terbakar gelombang kenaikan. Beberapa daerah mencatatkan kenaikan IPH yang fantastis, jauh melampaui batas atas HAP.

“Seperti di Kabupaten Situbondo harganya saat ini Rp79.991 per kilo dan kenaikan IPH-nya sampai 125,9%. Angka ini sudah sekitar 40% di atas HAP,” ungkapnya.

Baca Juga :  Racikan Rempah Nusantara dalam Semangkuk Daging Sapi Bumbu Bali yang Menggoda Selera

Kondisi serupa juga menimpa Pasuruan. Amalia menekankan bahwa daerah-daerah dengan anomali harga seperti ini harus menjadi fokus perhatian serius pemerintah daerah agar tidak memicu tekanan inflasi yang lebih lebar saat momentum Ramadan dan Idul Fitri tiba.

“Di Pasuruan kenaikan IPH-nya sampai 115% dan saat ini Rp78.792 per kilo. Kabupaten/kota yang sudah di atas HAP dan kenaikan IPH-nya relatif tinggi ini perlu menjadi perhatian,” tegas Amalia.

Dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang tak lepas dari cita rasa pedas, lonjakan harga komoditas ini diprediksi akan terus berlanjut. Tantangan pasokan menjadi kunci utama yang harus dijawab. “Menuju Ramadan dan Lebaran cabai rawit pasti permintaannya akan meningkat,” pungkas Amalia.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com