Patung Christopher Columbus Kembali Berdiri di Dekat Gedung Putih, Trump Sebut Pahlawan

0
Gedung
Balai Kota Columbus ditampilkan pada 7 Agustus 2017.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C.Di bawah penjagaan ketat dan atmosfer politik yang kontras, sesosok figur marmer putih kini berdiri tegak di halaman Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower. Posisi ini bukan sekadar penempatan artistik, melainkan sebuah pernyataan politik yang kuat dari pemerintahan Presiden Donald Trump, tepat di jantung kekuasaan Amerika Serikat yang bertetangga dengan Gedung Putih.

Patung tersebut adalah replika dari monumen Christopher Columbus yang sempat menjadi saksi bisu amuk massa di Baltimore pada tahun 2020. Saat itu, di tengah gelombang protes rasial nasional, patung aslinya diruntuhkan dan diceburkan ke pelabuhan sebagai simbol penolakan terhadap kolonialisme.

Baca Juga :  Revitalisasi Gedung Kesenian Cibinong, Pemkab Bogor Prioritaskan Infrastruktur Bertahap

Kini, melalui tangan dingin pematung Will Hemsley, replika tersebut hadir kembali untuk menghidupkan visi tradisional Trump tentang sejarah Amerika.

Pahlawan atau Penakluk?

Bagi Gedung Putih, kembalinya Columbus adalah upaya memulihkan martabat seorang perintis tatanan dunia modern. Namun bagi pihak lain, ia tetap menjadi figur kontroversial yang membuka pintu bagi genosida dan eksploitasi penduduk asli Amerika.

“Di Gedung Putih ini, Christopher Columbus adalah seorang pahlawan, dan Presiden Trump akan memastikan ia dihormati sebagai pahlawan untuk generasi mendatang,” tulis pernyataan resmi Gedung Putih melalui platform X.

Sentimen ini didukung oleh komunitas warga Amerika keturunan Italia yang merasa identitas mereka kini terlindungi. John Pica, Presiden Italian American Organizations United sekaligus pemilik patung tersebut, menyatakan kelegaannya atas lokasi baru ini.

Baca Juga :  Mencabut Rambut Putih Bisa Berbahaya, Simak 5 Penjelasannya

“Kami senang patung itu telah menemukan tempat di mana ia dapat bersinar dengan damai dan terlindungi,” ujar Pica.

Perang Budaya di Atas Marmer

Langkah ini menandai pergeseran tajam dari kebijakan era Joe Biden, yang pada 2021 menjadi presiden pertama yang mengakui Hari Masyarakat Adat secara resmi. Sebaliknya, Trump memilih untuk melawan apa yang ia sebut sebagai upaya penghapusan sejarah oleh kelompok sayap kiri.

Baca Juga :  Macet Parah Tanpa Petugas, Leuwiliang Lumpuh di Hari Arus Balik Lebaran

Dalam berbagai kesempatan kampanye, Trump tidak ragu menunjukkan keberpihakannya pada narasi tradisional ini. “Saya akan menghidupkan kembali Hari Columbus dari abu,” tegasnya April lalu.

Ia menilai serangan terhadap reputasi Columbus adalah serangan terhadap warisan budaya tertentu. “Demokrat melakukan segala yang mungkin untuk menghancurkan Christopher Columbus, reputasinya, dan semua orang Italia yang sangat mencintainya,” tambah Trump.

Kehadiran patung ini di Washington diprediksi akan terus memantik perdebatan panjang mengenai bagaimana Amerika seharusnya memandang masa lalunya: sebagai misi heroik penemuan dunia baru, atau sebagai awal dari luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com