
NARASITODAY.COM, PARIS – Hubungan diplomatik antara Washington dan Paris kembali memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu gelombang kemarahan di Prancis setelah melontarkan ejekan pribadi yang menyasar Presiden Emmanuel Macron serta ibu negara, Brigitte Macron.
Bukan sekadar perbedaan politik, Trump kali ini melintasi batas personal dengan menirukan aksen bicara Macron dan mengklaim bahwa Brigitte “memperlakukan suaminya dengan sangat buruk.” Serangan verbal ini dilontarkan Trump dalam sebuah jamuan makan siang pribadi, sembari meluapkan kekesalannya terhadap sekutu NATO tersebut yang enggan terlibat dalam konflik di Iran.
Ejekan Trump nyatanya menjadi bumerang. Di Prancis, para politisi yang biasanya berseberangan dengan Macron justru bersatu membelanya, menganggap perilaku Trump sebagai penghinaan terhadap martabat negara.
Yael Braun-Pivet, Presiden Majelis Rendah Parlemen Prancis, menyatakan keprihatinannya atas sikap santai Trump di tengah krisis kemanusiaan dunia yang sedang genting.
“Sejujurnya, itu tidak pantas. Saat ini kita sedang membahas masa depan dunia. Saat ini di Iran, hal ini berdampak pada kehidupan jutaan orang, orang-orang tewas di medan perang, dan kita memiliki presiden yang tertawa, yang mengejek orang lain,” tegas Braun-Pivet kepada laman Franceinfo, dikutip Kamis (2/4/2026).
Senada dengan itu, Manuel Bompard dari partai sayap kiri France Unbowed yang merupakan kritikus keras Macron turut mengecam Trump melalui siaran BFMTV.
“Anda tahu seberapa besar ketidaksepakatan saya dengan presiden, tetapi bagi Donald Trump untuk berbicara kepadanya seperti itu dan berbicara tentang istrinya dengan cara seperti itu, saya merasa itu sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Bompard.
Aksen Tiruan dan Isu Rumah Tangga
Ketegangan ini berawal dari sebuah video di saluran YouTube Gedung Putih (yang kini telah diblokir) di mana Trump menceritakan upayanya membujuk Prancis untuk mengirimkan bantuan kapal ke Teluk. Trump mengejek keengganan Macron dengan menirukan aksen Prancis sang presiden.
“Saya menghubungi Prancis, Macron, yang istrinya memperlakukannya dengan sangat buruk. Masih dalam masa pemulihan dari pukulan di rahang kanan,” kelakar Trump, merujuk pada video kontroversial Mei 2025 yang sebelumnya telah dibantah Macron sebagai disinformasi.
Trump kemudian menirukan jawaban Macron saat dimintai bantuan militer: “‘Tidak, tidak, tidak, kami tidak bisa melakukan itu, Donald. Kami bisa melakukan itu setelah perang dimenangkan’.”
Membalas hal itu dengan sinis, Trump berujar, “Saya bilang, ‘Tidak, tidak, saya tidak membutuhkan Emmanuel setelah perang dimenangkan’.”
NATO dalam Bidikan
Di balik ejekan pribadi tersebut, terselip pesan politik yang lebih tajam. Trump kembali melabeli NATO sebagai “macan kertas,” sebuah serangan yang konsisten ia lancarkan sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu.
Ketidakpastian masa depan aliansi transatlantik ini semakin diperkuat oleh pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang sebelumnya mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat harus “meninjau kembali” hubungannya dengan NATO setelah krisis Iran berakhir.
Bagi Prancis dan sekutu Eropa lainnya, retorika Trump bukan sekadar candaan kasar di meja makan, melainkan sinyal keretakan besar dalam tata keamanan dunia yang kian rapuh.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













