Konsumsi Konsumen AS Mulai Menunjukkan Tanda Kelelahan di Tengah Tekanan Inflasi

0
tenaga kerja
Ilustrasi mengatri untuk melamar pekerjaan.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C. – Motor utama ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan gejala “batuk-batuk”. Setelah sekian lama menjadi tumpuan pertumbuhan, daya beli konsumen di Negeri Paman Sam kini memperlihatkan tanda-tanda kelelahan yang nyata di tengah bayang-bayang inflasi dan ketegangan geopolitik global.

Data terbaru dari Biro Analisis Ekonomi (BEA) menunjukkan bahwa belanja konsumen riil hanya tumbuh tipis sebesar 0,1% pada Februari 2026. Angka ini muncul setelah kondisi stagnan pada bulan sebelumnya, menandakan bahwa masyarakat kini jauh lebih berhati-hati dalam membuka dompet mereka.

Harapan akan meredanya tekanan harga tampaknya masih harus tertunda. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE), yang merupakan indikator inflasi favorit Bank Sentral AS (The Fed), tercatat naik 0,4% secara bulanan atau 3% secara tahunan.

Baca Juga :  Gejolak Timur Tengah Memanas, China dan India Serbu Minyak Brasil

Situasi ini diperparah oleh kondisi di Timur Tengah. Meskipun sempat ada gencatan senjata antara AS dan Iran, harga minyak mentah Brent masih bertengger US$ 25 per barel lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik. Kenaikan harga energi ini mulai merembet ke berbagai sektor jasa dan barang konsumsi.

“Ketika rumah tangga menghadapi atau mengantisipasi tekanan finansial, mereka cenderung menahan belanja sebagai bentuk perlindungan diri. Ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi,” ujar Elizabeth Renter, Ekonom Senior di NerdWallet.

Baca Juga :  Pengelolaan Aset Desa untuk Peningkatan Pembangunan dan Pelayanan Publik

Fenomena yang paling mengkhawatirkan bagi para analis adalah anjloknya pendapatan riil yang dapat dibelanjakan (disposable income) sebesar 0,5%. Ini merupakan penurunan terdalam dalam hampir setahun terakhir.

Di sisi lain, masyarakat mulai mengandalkan sisa-sisa cadangan keuangan mereka. Tingkat tabungan merosot ke angka 4%, sebuah sinyal bahwa “bantalan” finansial rumah tangga AS semakin tipis untuk menahan guncangan ekonomi di masa depan.

Beberapa poin krusial dalam laporan ekonomi periode ini meliputi:

  • Sektor Otomotif: Menjadi penopang utama kenaikan belanja barang karena pemulihan stok kendaraan.
  • Sektor Jasa: Pertumbuhan cenderung datar, menandakan masyarakat mulai memangkas pengeluaran non-primer.
  • Dampak Korporasi: Maskapai Delta Air Lines dan layanan pos AS mulai merencanakan kenaikan tarif hingga 8% untuk mengompensasi biaya operasional.
Baca Juga :  Proteksi Keluarga Maksimal, Ruben Onsu Lawan Akun Viral yang Melecehkan Anak

Persimpangan yang Rapuh

Secara makro, ekonomi AS memang masih bergerak, namun dengan langkah yang kian berat. Produk Domestik Bruto (PDB) riil pada kuartal IV-2025 hanya tumbuh 0,5% secara tahunan, jauh di bawah ekspektasi pasar sebelumnya.

Para ekonom kini mengalihkan pandangan pada data Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret yang diprediksi melonjak 0,9%. Jika lonjakan harga bensin terus menghantam daya beli, konsumsi yang selama ini menjadi pahlawan ekonomi AS berisiko berbalik menjadi titik lemah yang bisa menyeret pertumbuhan global ke zona merah.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber