NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit Indonesia diprediksi akan dihiasi oleh formasi awan raksasa yang membawa potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) yang signifikan pada periode 15-21 April 2026.
Awan yang kerap dijuluki “raksasa langit” ini menjadi perhatian serius, terutama di wilayah Riau yang diprediksi akan memiliki cakupan awan CB paling padat.
Riau dalam Pantauan Utama
Berdasarkan data prakiraan berbasis dampak, BMKG mencatat bahwa beberapa wilayah akan mengalami kondisi langit yang didominasi oleh awan penghasil badai ini.
“Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial >75 persen (FRQ/ Frequent) tanggal 15 April 2026 – 21 April 2026 diprediksi terjadi di Riau,” tulis BMKG dalam laporan resminya, Selasa (15/4/2026).
Selain Riau, daftar panjang wilayah di Indonesia juga masuk dalam kategori occasional atau memiliki cakupan spasial antara 50-75 persen. Wilayah ini membentang dari ujung barat Aceh, menyisir Pulau Jawa, Kalimantan, hingga ke daratan Papua.
Mesin Cuaca yang Kompleks
Cumulonimbus bukanlah sekadar awan mendung biasa. Di balik bentuknya yang menyerupai menara atau landasan pacu, terdapat mekanisme fisika yang sangat aktif dan berbahaya. Prakirawan cuaca BMKG, Muhammad Hakiki, menjelaskan bahwa pembentukan awan ini melibatkan pergerakan vertikal udara yang kuat dan proses pembentukan es di ketinggian.
“Perbedaan muatan listrik di dalam sistem pembentukan Awan Cumulonimbus pun dapat menyebabkan terjadinya kilatan petir,” ungkap Hakiki.
Karakteristiknya yang agresif membuat awan ini menjadi “mesin” utama pemicu bencana hidrometeorologi. Hakiki menambahkan, “Awan Cumulonimbus kerap kali diasosiasikan dengan terjadinya hujan intensitas sedang hingga lebat dan dapat disertai kilatan petir dan angin kencang, bahkan puting beliung dan hujan es.”
Daftar Wilayah Potensi Awan CB (Cakupan 50-75%)
BMKG merinci wilayah daratan dan perairan yang perlu waspada terhadap kemunculan awan ini, di antaranya:
- Sumatera: Aceh, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.
- Jawa & Nusa Tenggara: Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.
- Kalimantan: Hampir seluruh wilayah Kalimantan (Barat, Selatan, Tengah, Timur, Utara).
- Sulawesi & Maluku: Sulawesi Barat, Selatan, Tengah, Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara.
- Papua: Papua (Induk), Papua Barat, Papua Barat Daya, Pegunungan, Selatan, dan Tengah.
- Perairan: Sejumlah area di Laut Jawa, Laut Banda, Selat Makassar, hingga Samudra Hindia.
Meskipun membawa potensi ancaman berupa hujan lebat hingga angin kencang (downburst), BMKG meminta masyarakat untuk menyikapi fenomena ini dengan tenang namun tetap siaga. Langkah antisipasi seperti menghindari pohon besar saat hujan angin atau segera mencari tempat berlindung yang kokoh saat petir mulai menyambar sangat disarankan.
“Namun, fenomena awan CB adalah sesuatu yang normal, warga tidak perlu takut dan khawatir namun tetap waspada,” pungkas Hakiki.
Dengan memasuki periode krusial ini, masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG guna menghindari risiko yang tidak diinginkan akibat cuaca ekstrem.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













