Perayaan Waisak 2570 BE Dimulai di Berbagai Daerah, Ramai dengan Ritual dan Dekorasi Spiritual

0
Waisak 2570
Ilustrasi Perayaan Hari Raya Waisak 2023 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Gema perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) mulai merambat di sudut-sudut kota. Dari aspal panas Jakarta hingga trotoar bersejarah di Solo, ribuan umat Buddha bersatu dalam rangkaian ritual spiritual yang memadukan kesederhanaan batin dengan kemeriahan budaya.

Di Ibu Kota, khidmatnya prosesi Pindapata Nasional menyita perhatian, sementara di Solo, persiapan menyambut para Bhikkhu Thudong internasional mulai mengubah wajah kota menjadi galeri ornamen Buddhis.

Jejak Tanpa Alas Kaki di Kemayoran

Minggu pagi (10/5/2026), kawasan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPKK) bertransformasi menjadi lautan umat. Sebanyak 78 Bhikkhu Sangha melangkah perlahan tanpa alas kaki di sepanjang Jalan Benyamin Sueb. Di tangan mereka, sebuah patta (mangkuk makanan) siap menerima dana berupa makanan dan obat-obatan dari barisan umat yang menanti dengan penuh bakti.

Baca Juga :  Bupati Bogor Tegaskan, Helaran Budaya HJB ke-543 Jadi Simbol Kebangkitan Budaya dan Ekonomi Di Bumi Tegar Beriman

Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang turut hadir dalam prosesi tersebut, memandang Pindapata bukan sekadar transaksi pemberian fisik, melainkan sebuah jembatan spiritual yang dalam.

“Pindapata bukan sekadar menerima makanan, melainkan perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima,” ujar Nasaruddin mengutip Tribunnews.

Bhikkhu Dhammakaro Mahathera, Ketua Umum Panitia Gema Waisak 2570 BE, menambahkan bahwa tradisi yang telah berusia lebih dari 2.500 tahun ini adalah latihan nyata bagi umat untuk memupuk kedermawanan dan bagi para Bhikkhu untuk menjaga kesederhanaan.

Bergeser ke Jawa Tengah, suasana Waisak di Kota Solo terasa lebih semarak secara visual. Sejak Selasa (12/5/2026), Jalan Jenderal Sudirman telah dihiasi dengan 12 stupa, Pilar Asoka, hingga lampion naga yang megah.

Baca Juga :  Warga di Cibungbulang Desak Pemkab Bogor Segera Pasang PJU di Jalan Rawan Begal

Pusat perhatian warga tertuju pada Plaza Balai Kota Solo, di mana sebuah Rupang Buddha Maha Parinibbana (Buddha tidur) bersanding dengan teratai emas. Ketua Panitia Waisak Solo, Sutrisno, menjelaskan bahwa setiap hiasan memiliki makna mendalam.

“Ornamen di Balai Kota Solo adalah simbol agama Buddha yang berkaitan dengan kisah kehidupan Sang Buddha,” kata Sutrisno kepada Kompas.com.

Menanti Kedatangan Bhikkhu Thudong

Yang paling dinanti warga Solo adalah kehadiran 55 Bhikkhu Thudong dari Thailand, Malaysia, dan Laos. Mereka dijadwalkan tiba di Vihara Dhamma Sundata pada 23 Mei 2026 setelah menempuh perjalanan spiritual ribuan kilometer dengan berjalan kaki.

Baca Juga :  5 Tren Budaya Anak Muda yang Dipengaruhi Media Sosial

Puncak acara akan ditandai dengan prosesi pembasuhan kaki para Bhikkhu yang diikuti kirab besar menuju Balai Kota Solo bersama sekitar 1.500 peserta lintas agama. Kehadiran para rahib ini menjadi simbol keteguhan iman yang melintasi batas-batas negara.

Rangkaian panjang ini akan ditutup dengan meditasi bersama pada detik-detik Waisak, 31 Mei 2026. Baik di Jakarta maupun Solo, perayaan tahun ini menegaskan satu pesan yang sama: bahwa di balik megahnya ornamen dan keramaian pawai, inti Waisak tetaplah pada keheningan batin dan kemurnian kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber