NARASITODAY.COM, BRUSSELS – Amerika Serikat dikabarkan tengah mempertimbangkan perluasan pengaturan penempatan senjata nuklir di kawasan Eropa dengan melibatkan lebih banyak negara anggota NATO di wilayah timur.
Wacana yang masih berada dalam tahap pembahasan rahasia tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perubahan strategi pertahanan di kawasan Atlantik Utara.
Informasi yang dilaporkan CNBC International menyebutkan bahwa diskusi tersebut berpotensi mencakup negara-negara di sayap timur NATO, termasuk Polandia dan beberapa negara Baltik.
Tiga sumber yang telah menerima pengarahan mengenai pembahasan itu mengungkapkan bahwa negara-negara tersebut dinilai memiliki ketertarikan untuk menjadi tuan rumah bagi pesawat pengebom berkemampuan nuklir milik Amerika Serikat.
Ketertarikan tersebut muncul setelah Presiden Donald Trump pada bulan lalu berjanji mengirimkan ribuan personel militer tambahan ke kawasan Eropa Timur sebagai bagian dari penguatan kehadiran militer Washington di wilayah tersebut.
Rencana perluasan pengaturan nuklir itu mencuat saat Gedung Putih dikabarkan tengah meninjau kembali dukungan militer konvensionalnya terhadap NATO. Pada saat yang sama, negara-negara Eropa juga berupaya meningkatkan kemampuan pertahanan secara mandiri melalui kenaikan anggaran militer guna mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat.
Saat ini, terdapat enam negara anggota NATO yang menjadi bagian dari skema berbagi senjata nuklir aliansi, yakni Inggris, Jerman, Italia, Belanda, Belgia, dan Turki. Negara-negara tersebut telah mendapat persetujuan untuk menampung pesawat berkemampuan ganda milik Amerika Serikat yang dapat membawa senjata nuklir maupun konvensional.
Dengan meningkatnya pengeluaran pertahanan di berbagai negara Eropa, kelompok tersebut kini berpotensi bertambah seiring evaluasi strategi pertahanan yang terus dilakukan NATO.
Menanggapi kabar tersebut, seorang pejabat NATO menegaskan bahwa aliansi secara rutin menyesuaikan postur keamanannya berdasarkan perkembangan ancaman global.
“NATO terus memantau lingkungan keamanan dan beradaptasi sesuai kebutuhan,” ujar pejabat tersebut pada Selasa (2/6/2026) waktu setempat.
Pejabat itu menegaskan bahwa proses evaluasi tersebut bukanlah respons langsung terhadap kebijakan terbaru Amerika Serikat di kawasan Eropa.
“Upaya untuk menilai dan berpotensi mengadaptasi postur pencegahan nuklir NATO telah berlangsung selama beberapa tahun dan tidak terkait dengan keputusan apapun yang diambil oleh Amerika Serikat untuk menyesuaikan postur konvensionalnya di Eropa,” tambah pejabat itu.
Di tengah berkembangnya wacana tersebut, sektor industri pertahanan Barat dipandang sebagai salah satu pihak yang berpotensi memperoleh manfaat ekonomi signifikan. Kebutuhan akan pesawat tempur berkemampuan ganda diperkirakan meningkat apabila penempatan senjata nuklir diperluas ke negara-negara baru.
Kepala Pasar AJ Bell, Dan Coatsworth, menilai jet tempur F-35 akan menjadi salah satu aset utama dalam skenario tersebut karena memiliki kemampuan membawa persenjataan nuklir maupun konvensional.
Menurutnya, Inggris memainkan peran penting dalam rantai pasok global program F-35 melalui keterlibatan sejumlah perusahaan besar seperti BAE Systems, Cobham, Qinetiq, dan Rolls-Royce. Selain itu, perusahaan pertahanan Amerika Serikat seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan RTX juga menjadi bagian penting dalam produksi pesawat tempur generasi kelima tersebut.
Melalui pesan elektronik, Coatsworth menjelaskan bahwa peningkatan pengerahan aset militer di Eropa dapat menciptakan peluang bisnis bernilai besar bagi industri pertahanan global.
“Pesawat-pesawat ini memakan biaya yang sangat signifikan hanya untuk bisa mengudara, dan jauh lebih besar lagi ketika Anda memperhitungkan pemeliharaan yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, peningkatan pengerahan senjata nuklir di Eropa dapat menciptakan peluang pendapatan yang besar bagi banyak perusahaan dan menghasilkan banyak lapangan kerja baru,” kata Coatsworth.
Sementara itu, situasi keamanan di kawasan Eropa terus menjadi perhatian NATO. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan dengan Rusia kembali meningkat setelah insiden pesawat tanpa awak yang menghantam sebuah blok apartemen di Rumania, negara anggota NATO sekaligus Uni Eropa.
Merespons perkembangan tersebut, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan komitmen aliansi untuk menjaga keamanan seluruh wilayah anggotanya.
Melalui unggahan di platform X pekan lalu, Rutte menyebut tindakan Rusia sebagai perilaku yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab.
“NATO siap mempertahankan setiap jengkal wilayah Sekutu,” tulis Rutte sembari menyebut perilaku Rusia sangat sembrono dan menjadi bahaya bagi semua pihak.
Perkembangan wacana perluasan penempatan senjata nuklir ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan, tidak hanya karena implikasinya terhadap stabilitas keamanan Eropa, tetapi juga karena dampak ekonominya yang berpotensi mengubah peta industri pertahanan global dalam beberapa tahun ke depan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













