NARASITODAY.COM,NANYUKI – Suasana kota Nanyuki di awal pekan ini mendadak mencekam. Asap tebal dari ban yang dibakar membubung ke langit, mengiringi jerit histeris massa saat sebutir peluru tajam mengakhiri hidup seorang demonstran. Gelombang unjuk rasa masif menolak pembangunan pusat karantina Ebola milik Amerika Serikat (AS) di pangkalan angkatan udara Kenya berujung pada pertumpahan darah.
Warga yang awalnya turun ke jalan membawa bendera nasional dan poster-poster penolakan harus kocar-kacir saat aparat keamanan merespons aksi dengan tindakan represif. Mengutip laporan CNBC International, sejumlah saksi mata dan pemimpin aksi mengonfirmasi bahwa korban tewas seketika di tempat kejadian setelah menderita luka tembak parah di bagian kepala.
Komisi Hak Asasi Manusia Kenya (KHRC) mengecam keras tindakan brutal ini. Mereka melaporkan adanya aparat kepolisian berpenutup wajah yang sengaja mengarahkan senjata berpeluru tajam ke arah kerumunan warga sipil.
“Petugas kepolisian berkerudung… menembakkan peluru tajam dan menangkap secara sewenang-wenang 19 pengunjuk rasa,” tegas pihak KHRC melalui pernyataan tertulis resmi mereka di platform media sosial X.
Ketakutan di Balik Tenda Putih Pangkalan Udara
Kemarahan warga Nanyuki sebenarnya merupakan puncak dari ketakutan yang mendalam. Rencana pembangunan fasilitas karantina berkapasitas 50 tempat tidur di Pangkalan Udara Laikipia dinilai warga sebagai upaya AS “membuang” risiko penyakit mematikan ke tanah mereka.
Ketakutan ini bukan tanpa alasan, sebab wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda saat ini tengah mengganas, menembus 500 kasus konfirmasi dengan korban jiwa mencapai 100 orang.
Selain ancaman kesehatan, warga yang tinggal di sekitar kawasan wisata ikonik Gunung Kenya meradang karena keberadaan fasilitas ini diyakini akan mematikan mata pencaharian mereka di sektor pariwisata lokal.
“Pesan saya adalah ini: Laikipia bukanlah tempat pembuangan sampah dan suara kami harus didengar,” ketus salah satu demonstran wanita bernama Priscilla Imani dengan penuh kemarahan di tengah aksi.
Ironisnya, protes warga ini terjadi di atas pengabaian hukum. Seorang hakim pengadilan tinggi setempat sebenarnya telah dua kali mengeluarkan perintah resmi untuk membekukan proyek tersebut.
Pengadilan bahkan memberi waktu satu pekan bagi pemerintah Kenya untuk membuka draf perjanjian rahasia dan protokol operasional karantina dengan AS ke publik. Namun, instruksi hukum itu diabaikan begitu saja.
Kebijakan Trump dan Goyangnya Kursi Kepresidenan Ruto
Di balik pagar kawat berduri lahan seluas 4,5 hektare di dalam area militer, aktivitas justru terus mengepul. Data satelit dan laporan diplomatik menunjukkan pesawat-pesawat militer AS tetap sibuk menerbangkan personel serta logistik. Rangkaian tenda putih berukuran besar terus berdiri tegak di dalam pangkalan.
Fasilitas di Kenya ini rupanya merupakan siasat dari kebijakan super ketat pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang melarang keras pasien terindikasi Ebola menginjakkan kaki di wilayah teritorial AS. Alhasil, kamp di Kenya ini dipersiapkan khusus untuk mengisolasi warga negara Amerika yang terpapar Ebola di Afrika Tengah sebelum mereka bergejala dan dipulangkan.
Kini, darah yang tumpah di jalanan Nanyuki telah mengubah riak protes menjadi gelombang politik yang siap menggulung pemerintahan domestik. Massa yang telanjur marah kini berbalik arah, meneriakkan slogan untuk melengserkan Presiden Kenya William Ruto. Sang presiden dinilai telah menggadaikan keselamatan rakyatnya sendiri demi memuluskan kepentingan politik luar negeri Washington.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














