Secangkir Kopi Pagi Warga AS Terancam Mahal Imbas Tarif Baru Trump untuk Produk Brasil

0
kopi pagi
Ilustrasi seorang petani sedang memilah biji kopi. Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Ritual minum kopi pagi bagi jutaan warga Amerika Serikat (AS) kini terancam menjadi lebih mahal. Kebijakan tarif baru yang diusulkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk kopi instan asal Brasil diperkirakan akan langsung memukul dompet konsumen di Negeri Paman Sam tersebut.

Alih-alih sekadar menjadi urusan perang dagang antarnegara, industri kopi global memperingatkan bahwa langkah proteksionisme ini akan mengganggu pasokan impor dan memicu lonjakan harga di tingkat retail.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kopi Instan Brasil (Abics), Aguinaldo José de Lima, menegaskan bahwa pada akhirnya masyarakat Amerikalah yang harus menanggung akibat dari kebijakan ini.

“Dengan memberlakukan tarif tambahan, dampak pertama akan dirasakan oleh perusahaan dan lapangan kerja, dan biaya yang lebih tinggi tersebut pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen Amerika,” ujar Lima saat menghadiri sidang publik Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) di Washington, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga :  Sepasang Kekasih Terekam CCTV Saat Mencuri Motor di Tangerang Selatan

Sengatan Tarif 25 Persen

Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) mengusulkan pengenaan tarif sebesar 25% terhadap kopi instan asal Brasil melalui investigasi Pasal 301 (Section 301 of the U.S. Trade Act of 1974). Aturan hukum ini memberi wewenang penuh kepada pemerintah AS untuk menindak praktik dagang negara lain yang dianggap tidak adil.

Namun, bagi industri kopi, keputusan ini dinilai kurang matang mengingat ketergantungan AS yang teramat tinggi pada Brasil. Lima membeberkan data bahwa lebih dari 90% ekspor kopi instan Brasil bermuara di pasar AS. Angka tersebut menguasai lebih dari seperlima total impor kopi instan AS, atau berkisar 15.500 metrik ton per tahunnya.

Baca Juga :  Trump Perintahkan Lembaga Federal Buka Dokumen Alien dan UFO

“Sehingga kebijakan tarif dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok secara signifikan,” kata Lima. “AS bergantung pada impor, dan saat ini tidak ada pemasok yang mampu menggantikan volume Brasil dengan harga yang sebanding,” tegasnya.

Pukulan Bagi Warga Berpenghasilan Rendah

Ironisnya, ancaman kenaikan harga ini datang tepat saat popularitas kopi instan tengah meroket di kalangan warga AS karena kepraktisannya. Data dari Asosiasi Kopi Nasional menunjukkan lonjakan signifikan: sebanyak 11% peminum kopi harian di AS kini mengandalkan kopi instan, melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan angka 6% pada tahun 2021.

Kebijakan ini juga memicu kebingungan di kalangan pelaku usaha karena dianggap tebang pilih dan tidak konsisten.

Baca Juga :  SMSI Serukan Media Siber Jadi Penyelaras Suara Damai di Tengah Aksi Massa

“Semua produk kopi lainnya dikecualikan. Hanya kopi instan yang tidak termasuk,” ujar Lima mempertanyakan keadilan regulasi tersebut. “Bahkan kopi instan beraroma pun dikecualikan, jadi tidak ada justifikasi teknis untuk memperlakukan kopi instan secara berbeda.”

Gelombang protes tidak hanya datang dari Brasil. Aliansi lintas negara yang terdiri dari Asosiasi Eksportir Kopi Brasil (Cecafe) serta Asosiasi Kopi Nasional AS (NCA) kompak menyuarakan keberatan mereka dalam sidang USTR.

Mereka mengingatkan pemerintah bahwa tarif baru ini akan menggerus margin keuntungan perusahaan dan, yang paling memprihatinkan, memberikan pukulan finansial terberat bagi rumah tangga berpendapatan rendah yang selama ini mengandalkan kopi instan sebagai opsi kafein yang ramah di kantong.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com