NARASITODAY.COM, LONDON – Dunia kembali menghadapi ancaman baru terhadap ketahanan pangan global. Di tengah tingginya harga pangan akibat konflik geopolitik, para ekonom kini memperingatkan potensi kemunculan El Nino super atau yang kerap dijuluki El Nino Godzilla, yang diperkirakan dapat memicu gangguan besar terhadap produksi pertanian dunia dan mendorong lonjakan harga pangan hingga beberapa tahun ke depan.
Laporan The Guardian, Senin (13/7/2026), menyebutkan bahwa ekonomi global saat ini menghadapi “dua guncangan sekaligus”, yakni dampak konflik geopolitik yang mengganggu pasokan energi dan pupuk, serta ancaman cuaca ekstrem akibat pemanasan global yang diperkirakan semakin diperkuat oleh fenomena El Nino berkekuatan sangat besar.
Para ilmuwan sebelumnya telah mengingatkan bahwa siklus El Nino periode 2026ā2027 memiliki peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk berkembang menjadi salah satu fenomena terkuat dalam sejarah pengamatan modern.
Fenomena tersebut terbentuk ketika perubahan pola angin menyebabkan massa air hangat menyebar ke wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator. Dampaknya diperkirakan memicu gelombang panas, kekeringan, banjir besar, hingga badai yang lebih ekstrem di berbagai belahan dunia.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) pada bulan lalu mengonfirmasi bahwa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik telah mulai terbentuk.
NOAA memperkirakan terdapat peluang sebesar 63 persen suhu permukaan laut meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas kondisi normal pada akhir tahun ini.
Kemunculan El Nino ekstrem dinilai terjadi pada saat yang kurang menguntungkan. Banyak negara masih bergulat dengan tekanan inflasi dan tingginya biaya hidup yang belum sepenuhnya pulih sejak beberapa tahun terakhir.
Para ekonom menilai cuaca ekstrem berpotensi memperparah tekanan terhadap harga pangan sekaligus kembali mendorong inflasi global. Kondisi tersebut juga dapat memaksa bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi mengendalikan kenaikan harga.
Analis dari bank asal Italia, UniCredit, menyebut fenomena tersebut kembali mengangkat risiko climateflation, yakni inflasi yang dipicu perubahan iklim.
“Gelombang panas yang baru-baru ini melanda Eropa menjadi pengingat bahwa kondisi dasar iklim telah berubah. El Nino dapat menambah tekanan baru pada akhir tahun ini karena memperkuat dampak pemanasan global,” tulis UniCredit dalam catatan risetnya.
Berpotensi Ganggu Produksi Pangan Dunia
Fenomena El Nino bukan hal baru dalam sejarah produksi pangan dunia. Lebih dari satu abad lalu, El Nino yang diyakini sebagai salah satu yang terkuat pernah memicu kekeringan berkepanjangan di China, India, Brasil, Mesir, dan Afrika bagian selatan.
Bencana tersebut menyebabkan gagal panen besar yang diperparah oleh kebijakan kolonial pada masa itu, sehingga memicu kelaparan dan menewaskan jutaan orang, termasuk lebih dari enam juta jiwa di India pada periode 1876ā1878.
Dalam beberapa dekade terakhir, El Nino kuat juga tercatat terjadi pada periode 1981ā1982, 1997ā1998, 2015ā2016, serta 2023ā2024.
Namun, proyeksi terbaru NOAA menunjukkan siklus 2026ā2027 berpotensi memiliki intensitas yang lebih besar dibandingkan peristiwa-peristiwa sebelumnya, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, banjir, gagal panen, hingga gangguan rantai pasok pangan dunia.
Analis Goldman Sachs memperkirakan kekuatan El Nino kali ini dapat mendorong kenaikan harga komoditas pangan global hingga 15,8 persen.
Di kawasan zona euro, harga pangan diproyeksikan meningkat sekitar 1,3 persen sebagai dampak lanjutan dari terganggunya produksi dan distribusi pangan dunia.
Sebelumnya, Bank Sentral Eropa (ECB) memperkirakan El Nino kuat mampu mendorong kenaikan harga komoditas pangan global hingga sembilan persen. Namun, risiko pada siklus kali ini dinilai jauh lebih besar.
UniCredit bahkan memperkirakan El Nino ekstrem dapat memangkas produksi pertanian dunia hingga 14,3 persen, atau setara kehilangan output senilai US$342 miliar.
“Guncangan harga dapat mencapai 10% hingga 50% pada komoditas utama, sementara tanaman yang paling rentan, termasuk beras, minyak sawit, gula, dan kopi, dapat melonjak antara 50% hingga 100% atau bahkan lebih tinggi,” kata UniCredit.
Menurut lembaga tersebut, sistem pangan global memang masih memiliki cadangan untuk menghadapi tekanan pada paruh kedua 2026. Namun, ruang untuk mengantisipasi gangguan dinilai semakin sempit apabila cuaca ekstrem berlangsung lebih lama.
Dampak Diperkirakan Terasa hingga 2028
Meski ancaman El Nino mulai terbentuk tahun ini, para analis memperkirakan dampak ekonomi secara penuh baru akan dirasakan dalam beberapa tahun mendatang.
Goldman Sachs menilai konsekuensi terhadap harga pangan dan perekonomian global baru akan “sepenuhnya terealisasi” pada paruh kedua 2028.
Keterlambatan tersebut terjadi karena cuaca ekstrem memengaruhi siklus pertanian secara bertahap, mulai dari musim tanam, masa pertumbuhan tanaman, hingga waktu panen yang berbeda-beda pada setiap komoditas.
Selain produksi, tantangan juga diperkirakan muncul pada sektor logistik. Penurunan debit air di sungai maupun kanal yang menjadi jalur distribusi utama komoditas dapat memperburuk gangguan rantai pasok global.
Meski demikian, dampak El Nino tidak diperkirakan berlangsung seragam di seluruh dunia.
Analis UBS menilai perubahan pola suhu dan curah hujan akan menciptakan wilayah yang mengalami kerugian sekaligus kawasan yang justru memperoleh keuntungan dari kondisi cuaca baru.
“El Nino tidak memengaruhi sektor pertanian secara seragam. Fenomena ini membentuk ulang pola curah hujan dan suhu global sehingga menciptakan pihak yang diuntungkan dan dirugikan di berbagai kawasan,” tulis analis UBS.
Goldman Sachs menyebut dampak awal sudah mulai terlihat di India, di mana musim hujan monsun berlangsung jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal.
“Beberapa wilayah hanya menerima sekitar 25% dari curah hujan normal, sementara sebagian wilayah India tengah hanya menerima sekitar 50%, yang dapat memengaruhi pasokan gandum, beras, dan tebu,” tulis Goldman Sachs.
Sementara itu, kawasan Asia Tenggara juga diperkirakan menghadapi ancaman penurunan produksi minyak sawit akibat kekeringan. Selain itu, produksi kopi dan kakao diproyeksikan ikut terdampak.
Di sisi lain, cuaca yang lebih hangat dan lembap berpotensi mempercepat penyebaran penyakit tanaman sehingga semakin menekan hasil panen pada musim berikutnya.
Bagi Eropa, para analis memperkirakan dampak terbesar bukan berasal dari perubahan cuaca secara langsung, melainkan melalui kenaikan harga pangan global yang dipicu terganggunya produksi di berbagai negara produsen utama dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














