Katy Perry Kecam Gedung Putih Gunakan Firework dalam Video Serangan Militer

0
Katy Perry
Katheryn Elizabeth Hudson, dikenal secara profesional sebagai Katy Perry, adalah seorang penyanyi, penulis lagu dan juri televisi berkebangsaan Amerika Serikat. Foto : deezer.com

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Penyanyi asal Amerika Serikat, Katy Perry, mengecam Gedung Putih setelah lagu hitnya, Firework (2010), digunakan sebagai musik latar dalam unggahan video di akun TikTok resmi Gedung Putih yang menampilkan cuplikan serangan militer terhadap Iran.

Video yang diunggah pada Kamis (23/7/2026) itu memperlihatkan rekaman ledakan bom yang dipadukan dengan lirik lagu Firework. Unggahan tersebut juga disertai keterangan bertuliskan, “Iran telah diperingatkan.”

Penggunaan lagu tersebut memicu protes dari Perry. Melalui media sosial pada Sabtu (24/7), ia menyatakan tidak pernah memberikan izin maupun persetujuan atas penggunaan lagunya untuk konten yang berkaitan dengan operasi militer.

“Saya sangat terkejut dan marah melihat Firework digunakan di akun TikTok @WhiteHouse sebagai musik latar untuk cuplikan video serangan militer,” tulis Perry.

Baca Juga :  Serahkan Medali Nobel ke Donald Trump, Maria Corina Machado Galang Dukungan di Gedung Putih

“Saya tidak menyetujui ini, saya tidak diminta, dan saya sama sekali tidak membenarkannya,” lanjutnya.

Perry menegaskan bahwa Firework diciptakan sebagai lagu yang membawa pesan harapan, penyembuhan, dan kekuatan bagi mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit.

“Saya menulis lagu ini untuk menjadi lagu harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin bagi orang-orang yang sedang melewati momen-momen tergelap dalam hidup mereka,” ujarnya.

Ia menilai penggunaan lagu tersebut dalam video yang menampilkan aksi militer bertolak belakang dengan makna yang ingin disampaikan melalui karya tersebut.

“Melihat pesan tentang harga diri dan peningkatan diri dipersenjatai untuk mengiringi kehancuran dan kekerasan adalah pelanggaran total terhadap semua yang diwakili lagu saya. Musik saya adalah untuk menyatukan orang, bukan untuk merayakan peperangan,” tegas Perry.

Baca Juga :  Trump Ancam Embargo Perdagangan Penuh terhadap Spanyol Atas Penolakan Pangkalan Militer

Menurut laporan Variety, unggahan Gedung Putih itu muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump masih menahan rencana eskalasi besar terhadap Iran, sembari melanjutkan proses negosiasi. Meski demikian, militer Amerika Serikat dilaporkan tetap berada dalam status siaga untuk kemungkinan operasi lanjutan.

Trump sebelumnya mengatakan Washington “siap siaga” tetapi “tidak terburu-buru” mengambil langkah berikutnya. Ia juga mengklaim Teheran mulai menunjukkan keseriusan dalam pembahasan kemungkinan tercapainya kesepakatan. Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) disebut masih melancarkan serangan terhadap sejumlah target rudal, maritim, dan fasilitas nuklir Iran.

Baca Juga :  Perang Sudan Terus Berlanjut, Puluhan Warga Luka-luka dan Tewas Akibat Serangan RSF

Katy Perry bukan artis pertama yang memprotes penggunaan lagunya oleh pemerintahan Trump. Pada Juni 2026, Ariana Grande juga mengecam Gedung Putih setelah lagunya, Bye (2024), digunakan dalam video TikTok yang menampilkan agen Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) saat menangkap dan memborgol sejumlah orang.

Selain Ariana Grande, sejumlah musisi lain seperti Sabrina Carpenter, Olivia Rodrigo, Celine Dion, Neil Young, dan The Rolling Stones juga pernah mengkritik Donald Trump karena menggunakan karya mereka untuk kepentingan politik atau pesan yang tidak sejalan dengan pandangan para artis tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com