Riset Ungkap Magic Mushroom Bisa Pengaruhi Otak hingga Tiga Minggu

0
Magic Mushroom
foto : detikinet

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Magic mushroom atau jamur psilocybin kembali jadi sorotan setelah penelitian terbaru menunjukkan efeknya pada otak bisa bertahan hingga tiga minggu setelah dikonsumsi.

Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dan dipublikasikan di jurnal Nature ini menemukan bahwa senyawa psikoaktif dalam jamur tersebut, psilocybin, membuat pola konektivitas otak menjadi lebih acak dan tidak terorganisir. Kondisi ini disebut bisa membuat seseorang lebih fleksibel secara kognitif dan membantu mengurangi gejala gangguan mental seperti depresi.

Baca Juga :  DPRD Kabupaten Bogor Libatkan Aspirasi Warga dan Reses dalam Penyusunan RKPD Tahun Anggaran 2027

Dalam studi tersebut, tujuh partisipan diminta mengonsumsi psilocybin dalam dosis tinggi. Mereka kemudian menjalani pemindaian otak menggunakan MRI sebelum, selama, dan setelah efek obat berlangsung. Hasilnya, sesaat setelah mengonsumsi psilocybin, aktivitas jaringan otak mereka menjadi “kacau” dan sulit dibedakan antara satu sama lain.

“Otak orang yang mengonsumsi psilocybin terlihat lebih mirip satu sama lain dibandingkan dengan kondisi normal mereka. Individualitas mereka seolah menghilang sementara,” jelas peneliti Nico Dosenbach.

Efek ini terutama terjadi pada Default Mode Network (DMN), bagian otak yang berperan dalam aktivitas berpikir dan refleksi diri. Ketika jaringan ini tidak sinkron, seseorang bisa mengalami perubahan persepsi dan kesadaran yang khas pada pengalaman psikedelik.

Baca Juga :  Hadapi Bad Skin Day dengan Tenang! Coba 5 Langkah Ini untuk Mengembalikan Kepercayaan Diri Anda

Meskipun efek akutnya hanya berlangsung beberapa jam, penelitian menemukan bahwa konektivitas otak tetap lebih longgar selama sekitar tiga minggu setelah konsumsi. Para ahli menduga perubahan ini bisa menjelaskan efek terapeutik jangka panjang dari penggunaan psilocybin dalam terapi kesehatan mental.

Baca Juga :  Oasis Rampungkan Tur Reuni, Kini Kembali Masuk Masa Vakum

Joshua Siegel, salah satu peneliti, menyebut bahwa efek “pengacakan” sementara ini memungkinkan otak keluar dari pola pikir kaku dan membuka peluang bagi proses penyembuhan. “Dalam jangka pendek, hal ini menciptakan pengalaman psikedelik. Tapi dalam jangka panjang, otak menjadi lebih fleksibel dan bisa mencapai kondisi yang lebih sehat,” ujarnya.

Peneliti menilai temuan ini memperkuat potensi psilocybin sebagai alternatif terapi untuk depresi dan gangguan mental lain — meski penggunaannya tetap harus diawasi secara medis. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : detikinet