Gereja Puhsarang, Ruang Sunyi di Lereng Gunung Wilis yang Menenangkan Batin

0
Gereja Puhsarang. kediri. Foto: dok TabloidBintang

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Tidak semua tempat mampu meninggalkan kesan mendalam hingga membuat orang ingin kembali lagi. Namun, Gereja Puhsarang di Kabupaten Kediri menjadi salah satu destinasi yang menghadirkan pengalaman berbeda. Terletak di lereng Gunung Wilis dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, kawasan ini menawarkan ketenangan yang sulit dijabarkan secara logika, tetapi mudah dirasakan oleh siapa pun yang berkunjung.

Gereja Puhsarang bukan sekadar tujuan wisata religi. Tempat ini kerap menjadi ruang refleksi batin bagi banyak orang. Sejumlah pengunjung mengaku datang hanya karena rasa ingin tahu, tanpa ekspektasi tertentu. Namun saat meninggalkan kawasan ini, mereka membawa perasaan yang lebih damai, ringan, dan merasa lebih dekat dengan diri sendiri.

Saat pertama kali memasuki area Puhsarang, suasana seolah mengajak setiap orang memperlambat langkah. Jalur setapak yang menanjak, pepohonan rindang, serta bangunan yang menyatu dengan alam menciptakan irama yang menenangkan. Tidak ada paksaan untuk berdoa atau memahami simbol-simbol keagamaan secara mendalam. Pengunjung bebas duduk dalam keheningan di depan Gua Maria, menyusuri Jalan Salib Bukit Golgota, atau sekadar menikmati panorama hijau Gunung Wilis.

Baca Juga :  Berkunjung ke Turki Saat Ramadan? Ini 5 Tempat Wisata Religi yang Wajib Anda Kunjungi

Salah satu hal yang membuat Puhsarang terasa istimewa adalah rasa keterbukaan dan penerimaan. Meski merupakan tempat ibadah umat Katolik, kawasan ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Tidak ada suasana menghakimi. Semua hadir sebagai manusia yang sama-sama mencari ketenangan, harapan, atau sekadar jeda dari rutinitas. Anak-anak, orang dewasa, peziarah, hingga wisatawan umum berbaur tanpa sekat.

Kuatnya nuansa budaya Jawa turut memperkaya karakter Gereja Puhsarang. Kompleks ini dirancang dengan sentuhan arsitektur bercorak Majapahit, seperti punden berundak dan bangunan menyerupai candi Jawa. Unsur tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap budaya lokal yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai religius.

Baca Juga :  Wisata Chubu Jadi Sorotan: Kastel Bersejarah, Museum, hingga Desa Tradisional

Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, Ninie Susanti Tedjowasono, menilai Gereja Puhsarang memiliki keunikan tersendiri. Gereja yang hampir berusia satu abad ini dinilai menyimpan nilai sejarah, budaya, dan toleransi yang tinggi. Ia menyebut Puhsarang sebagai contoh arsitektur yang memadukan unsur budaya lokal dengan pengaruh Eropa.

Menurut Ninie, pendekatan arsitektur yang membumi, penggunaan simbol-simbol lokal, serta tata ruang yang mengikuti kontur alam menjadikan Puhsarang berbeda dari tempat ibadah pada umumnya. Tak sedikit pengunjung non-Katolik yang merasa nyaman berada di kawasan ini, menikmati suasana tanpa rasa sungkan. Di sinilah perjumpaan antara iman dan budaya berlangsung secara hening, hangat, dan saling menghormati.

Nilai religius di Puhsarang hadir secara inklusif, berdampingan dengan tradisi dan kehidupan masyarakat sekitar. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi budaya dan pariwisata.

Baca Juga :  Exploring Swiss: 5 Rekomendasi Tempat Wisata yang Tak Terlupakan

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyampaikan bahwa Kabupaten Kediri memiliki banyak situs bersejarah dan budaya yang akan terus dikembangkan. Pemerintah daerah, menurutnya, berkomitmen mendukung pembangunan infrastruktur serta penguatan sektor pariwisata dengan mengusung tagline Kediri Berbudaya.

Ia juga menambahkan bahwa akses menuju Kediri kini semakin mudah dengan beroperasinya Dhoho International Airport. Dari bandara tersebut, perjalanan menuju Gereja Puhsarang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 40 menit melalui akses jalan yang sudah memadai.

Pada akhirnya, pesona Gereja Puhsarang tidak terletak pada kemegahan, melainkan pada kesederhanaan yang jujur. Tempat ini tidak menawarkan keramaian, melainkan keheningan. Tidak menjanjikan jawaban instan, tetapi memberi ruang bagi setiap orang untuk mendengarkan suara batinnya sendiri. Barangkali itulah alasan banyak pengunjung memilih kembali—untuk mengulang pengalaman yang sulit dirangkai kata, namun nyata terasa di dalam hati. (MG5)

Editor : Nathania

Sumber : tabloidbintang.com