Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Pariwisata Gunung Everest di Nepal

0
Nepal
Ilustrasi Para pendaki gunung yang sedang mendaki Everest.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, KATHMANDUMusim semi di Nepal seharusnya menjadi “musim panen” bagi para pemandu gunung dan pemilik hotel di kaki Everest. Namun, di tahun 2026 ini, deru angin di ketinggian Himalaya terasa lebih sunyi. Konflik yang memanas di Timur Tengah telah memicu pembatalan massal dan memutus jalur penerbangan utama menuju atap dunia.

Ketegangan geopolitik yang meletus di Teluk sejak akhir Februari lalu berdampak langsung pada konektivitas udara Nepal. Berdasarkan data resmi yang dikutip dari South China Morning Post, Kamis (16/4/2026), jumlah pendaki dari pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa anjlok masing-masing sebesar 25 persen dan 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pintu Langit yang Tertutup

Nepal sangat bergantung pada transit di Timur Tengah. Lebih dari 70 persen penumpang jarak jauh harus melalui pusat penerbangan seperti Doha (Qatar) atau Dubai (UEA). Sejak perang dimulai, lebih dari 400 penerbangan dari dan menuju negara-negara Teluk telah dibatalkan, mengganggu setidaknya 17 jadwal harian reguler.

Baca Juga :  Pemerintah Kabupaten Bogor Garap Rekonstruksi Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia untuk Masa Depan Lebih Baik

Mani Raj Lamichhane, Direktur Senior di Dewan Pariwisata Nepal, mengungkapkan kecemasannya atas hilangnya koneksi jarak jauh ini.

“Ada banyak pembatalan pemesanan dari pasar Eropa dan Amerika, yang mengkhawatirkan para pengusaha pariwisata. Banyak kamar hotel juga kosong, tetapi kami berharap wisatawan dari negara lain akan untuk sementara waktu menggantikan penurunan di pasar tradisional kami di Barat,” ujar Lamichhane.

Dapur Pemandu yang Berhenti Mengepul

Di balik angka statistik yang menurun, ada kisah para pekerja lapangan yang menggantungkan hidup pada ransel para pendaki. Mohan Poudel, seorang pemandu wisata veteran selama 16 tahun, kini harus lebih banyak berdiam diri di rumah. Bulan Maret lalu, empat kelompok besar dari Prancis, Jerman, dan Austria membatalkan perjalanan mereka secara mendadak.

Baca Juga :  Gejolak Timur Tengah Memanas, China dan India Serbu Minyak Brasil

Bagi Poudel yang menghidupi tujuh anggota keluarga, ketiadaan pendaki Barat adalah pukulan telak bagi kantongnya.

“Pada bulan yang baik, saya biasanya menghasilkan sekitar Rupee 70.000 di musim puncak, tetapi bulan lalu saya hampir tidak menghasilkan 10 persen dari itu. Tidak separah saat Covid, tetapi tidak adanya jumlah wisatawan dan pendapatan seperti biasanya masih membuat stres,” tutur Poudel lirih.

Meski pasar Barat lesu, harapan muncul dari tetangga terdekat di kawasan Asia-Pasifik. Kunjungan dari pasar Asia Timur dan Asia Selatan justru meningkat stabil, membantu menahan penurunan total kunjungan sehingga hanya turun tipis sekitar 1 persen.

Baca Juga :  Konsumsi Konsumen AS Mulai Menunjukkan Tanda Kelelahan di Tengah Tekanan Inflasi

Kenaikan jumlah pelancong dari Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan Myanmar menjadi titik terang bagi Nepal. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah yang menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Pariwisata Nepal-ASEAN untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Barat.

Namun, industri tetap waspada. Jack Edwards, Direktur Pelaksana Tiger Tops, perusahaan safari mewah yang telah berdiri setengah abad, memperingatkan adanya dampak jangka menengah akibat kenaikan biaya bahan bakar.

“Kami melihat perlambatan yang cukup signifikan dalam permintaan untuk enam hingga sembilan bulan ke depan, yang akan memengaruhi tingkat hunian,” jelas Edwards.

Kini, Nepal berdiri di persimpangan jalan; antara menunggu langit Timur Tengah kembali aman atau mempercepat langkah untuk merangkul pasar Asia demi menjaga napas pariwisatanya tetap berlanjut.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com