Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Picu Kontroversi dengan Doa ‘Pulp Fiction’ di Pentagon

0
Pentagon
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.Foto : ipdefenseforum.com

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Ruang ibadah di Pentagon yang biasanya khidmat mendadak menjadi pusat badai kritik. Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, memicu kontroversi luas setelah memimpin doa bagi misi penyelamatan pilot militer AS di Iran dengan kutipan yang justru lebih identik dengan skrip film Hollywood daripada kitab suci.

Dalam acara yang digelar Jumat (17/4/2026) tersebut, Hegseth menyebut doanya sebagai “CSAR (Combat Search and Rescue) 25:17”. Meski ia mengklaim merujuk pada ayat Alkitab Yehezkiel 25:17, narasi yang diucapkannya justru menyerupai monolog ikonik karakter Jules Winnfield yang diperankan Samuel L. Jackson dalam film Pulp Fiction (1994).

Antara Ayat Suci dan Fiksi Layar Lebar

Baca Juga :  Microsoft Menekankan Pentingnya Upgrade Hardware untuk Penggunaan Windows 11

Sentuhan dramatis Hegseth saat mengucapkan kalimat tentang “jalan penuh ketidakadilan dan amarah besar” langsung memicu reaksi keras. Secara struktur narasi, teks tersebut hampir identik dengan versi fiksi karya sutradara Quentin Tarantino, sementara ayat asli Yehezkiel 25:17 dalam Alkitab jauh lebih singkat dan tidak memuat bumbu dialog seperti yang dibacakan sang Menteri.

Mengutip laporan Al-Jazeera, publik di media sosial mengecam insiden tersebut sebagai sesuatu yang “memalukan”. Para kritikus menyoroti adanya tabrakan antara retorika religius yang serius dengan sumber kutipan budaya populer yang tidak pada tempatnya.

Hegseth, yang merupakan anggota Persekutuan Gereja-Gereja Injili Reformasi dan rutin mengadakan kebaktian di Pentagon, memberikan pembelaan sendiri. Sebagaimana dimuat The Guardian, ia mengklaim teks tersebut didapatkan dari seorang pilot Angkatan Udara.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Bentuk Tim Reaksi Cepat untuk Tangani Bencana di Bojong Kulur

“Ayat itu diberikan kepada saya oleh salah satu pilot Angkatan Udara AS yang melakukan serangan terhadap Iran,” klaim Hegseth.

Hingga saat ini, Hegseth tetap tidak mengakui bahwa teks yang dibacakannya merupakan buah karya penulis film era 90-an, bukan teks suci murni.

Di Tengah Ketegangan Perang dan Politik

Insiden ini terjadi di saat yang sangat sensitif. Hubungan geopolitik antara Washington dan Teheran tengah berada di titik nadir akibat konflik militer yang sedang berlangsung. Penggunaan narasi keagamaan dalam konteks operasi militer dianggap banyak pihak sebagai langkah yang provokatif.

Baca Juga :  Hambalang Jadi Pusat Kendali, Presiden Prabowo Kumpulkan Menteri demi Program Strategis

Namun, beban politik Hegseth tidak berhenti di meja altar doa. Hanya berselang beberapa jam setelah kebaktian tersebut berakhir, gelombang politik menghantamnya dari arah Capitol Hill.

Anggota DPR dari Partai Demokrat secara resmi mengajukan pasal-pasal pemakzulan (impeachment) terhadap Hegseth. Ia menghadapi tuduhan serius terkait dugaan kejahatan perang dan penyalahgunaan kekuasaan dalam penanganan konflik Iran.

Kasus ini menambah daftar panjang polemik di bawah pemerintahan Donald Trump, di mana garis batas antara simbol agama, ambisi militer, dan hiburan populer tampak semakin kabur di tengah kecamuk perang.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com