Jepang Waspadai Ancaman Gempa Besar Setelah Guncangan M 7,7 di Perairan Pasifik

0
Gempa
Ilustrasi alat pendeteksi gempa. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TOKYO – Langit di atas Prefektur Iwate baru saja mulai meredup saat bumi tiba-tiba berguncang hebat pada Senin (20/4/2026) pukul 16.53 waktu setempat. Gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang berpusat di perairan Pasifik tersebut tak hanya menggetarkan gedung-gedung hingga ke Tokyo, tetapi juga membangkitkan kembali memori kolektif bangsa Jepang akan kedahsyatan amukan alam.

Pemerintah Jepang bergerak cepat. Tak lama setelah guncangan mereda, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan yang lebih menggetarkan dari gempa itu sendiri ia berpotensi gempa megathrust berkekuatan M8,0 atau lebih kini berada di depan mata.

Kewaspadaan di Tengah Ketidakpastian

Meski alarm tsunami sempat berbunyi dan gelombang setinggi 80 cm terpantau menghantam Pelabuhan Kuji, fokus otoritas kini beralih pada risiko jangka panjang. JMA menegaskan bahwa aktivitas seismik ini bukanlah sekadar getaran lewat, melainkan sinyal pengingat bahwa tekanan di bawah kerak bumi sedang mencari jalan keluar.

Baca Juga :  Jepang Perketat Syarat Naturalisasi, Masa Tinggal Minimal Digandakan Jadi 10 Tahun

“Kemungkinan terjadinya gempa bumi besar baru relatif lebih tinggi daripada pada waktu normal,” tulis otoritas dalam pernyataan resminya, Selasa (21/4/2026).

Walau demikian, pemerintah tetap berusaha menjaga ketenangan publik dengan memberikan penjelasan yang proporsional. “Meskipun probabilitasnya rendah, ada kemungkinan gempa bumi besar lainnya terjadi; oleh karena itu, harap tinjau kembali langkah-langkah kesiapan gempa bumi Anda,” tambah pernyataan tersebut.

Respons Cepat dan Skenario Terburuk

Di tengah situasi ini, Perdana Menteri Sanae Takaichi langsung menginstruksikan langkah-langkah darurat. Tim manajemen krisis telah dibentuk untuk memantau infrastruktur vital dan keselamatan warga secara real-time. Hingga saat ini, Sekretaris Kabinet Utama Minoru Kihara melaporkan situasi masih terkendali.

Baca Juga :  Jember Digoyang Gempa Magnitudo 3,4 Jumat Pagi, BMKG Minta Warga Tetap Tenang

“Tidak ada laporan langsung mengenai cedera serius atau kerusakan signifikan,” ujar Kihara dalam konferensi pers. Tercatat hanya satu korban luka ringan di wilayah Aomori, meski 182.000 warga tetap diminta untuk mengevakuasi diri secara mandiri sebagai langkah antisipasi.

Namun, ketenangan ini terasa tipis. Sebagai negara yang berada di jalur “Cincin Api” Pasifik, Jepang sadar betul akan kerentanan mereka. Ancaman gempa di Palung Nankai, misalnya, diprediksi bisa menjadi bencana kemanusiaan dan ekonomi terbesar dalam sejarah modern dengan potensi korban jiwa mencapai 298.000 orang.

Baca Juga :  Dua Gempa Susulan Mengguncang Setelah Guncangan Utama di Perbatasan Afghanistan-Pakistan

Imbauan untuk Bertahan

Pemerintah kini menitikberatkan pada kesiapan individu. Perdana Menteri Takaichi menegaskan bahwa keselamatan nyawa adalah prioritas mutlak di atas segalanya.

“Bagi Anda yang tinggal di daerah yang telah diberi peringatan, mohon evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan aman,” tegas Takaichi.

Bagi warga Jepang, hidup berdampingan dengan 1.500 gempa setiap tahunnya adalah sebuah keniscayaan. Namun, setelah tragedi M9,0 tahun 2011 yang menyisakan luka mendalam di Fukushima, setiap getaran kini dianggap sebagai peringatan serius untuk selalu siap menghadapi skenario terburuk yang bisa datang kapan saja.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com