NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Sebuah sinyal merah menyala bagi masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Harapan publik yang membumbung tinggi saat pelantikan kini perlahan memudar, tertutup oleh bayang-bayang inflasi yang mencekik dompet warga dan kekhawatiran akan genderang perang di Timur Tengah.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru dari NBC News Decision Desk dan SurveyMonkey yang dirilis Selasa (21/4/2026), tingkat persetujuan (approval rating) Trump merosot ke angka 37%. Ini adalah level terendah sejak ia kembali menduduki kursi kepresidenan. Sebaliknya, sebanyak 63% warga menyatakan tidak puas, dengan separuh di antaranya mengungkapkan ketidakpuasan yang sangat mendalam.
Cekikan Inflasi di Meja Makan
Bagi banyak warga Amerika, statistik ekonomi bukan sekadar angka, melainkan perjuangan harian di rak-rak supermarket dan pompa bensin. Isu ekonomi menjadi beban utama yang menyeret popularitas Trump. Sekitar 45% responden menunjuk kenaikan biaya hidup sebagai kecemasan terbesar mereka.
Laporan survei tersebut menyoroti jurang pemisah antara janji kampanye dan realitas di lapangan:
“Dua pertiga warga Amerika tidak menyetujui penanganan inflasi oleh presiden,” tulis hasil jajak pendapat tersebut.
Sentimen ini diperkuat dengan pengakuan 40% warga yang merasa kondisi finansial mereka justru memburuk dibandingkan tahun lalu. Harga bensin pun menjadi “hantu” bagi stabilitas dapur, di mana hampir dua pertiga responden menganggapnya sebagai masalah serius bagi keluarga mereka.
Gema Perang yang Ditolak
Ketidakpuasan publik tidak berhenti di urusan perut. Kebijakan luar negeri Trump, khususnya eskalasi konflik dengan Iran, memicu gelombang penolakan yang luas. Meski gencatan senjata sementara telah diumumkan pada awal April, kepercayaan publik tampaknya belum pulih.
Publik Amerika, terutama generasi muda, menunjukkan keengganan yang kuat untuk terlibat kembali dalam sengketa militer yang berkepanjangan di luar negeri.
“Persentase warga yang sangat tidak setuju meningkat signifikan dibandingkan musim panas lalu,” lanjut laporan survei tersebut, merujuk pada respons keras masyarakat terhadap kebijakan luar negeri dan ekonomi.
Sebanyak 61% responden secara tegas menilai Amerika Serikat tidak seharusnya mengambil tindakan militer tambahan terhadap Teheran. Penolakan ini bahkan mencapai puncaknya di kalangan warga di bawah usia 30 tahun, di mana 74% di antaranya menentang aksi militer lebih lanjut.
Retakan di Basis Pendukung
Yang paling mengkhawatirkan bagi kubu Republik adalah mulai retaknya dukungan di basis massa mereka sendiri. Meski masih kuat di angka 83%, tingkat persetujuan dari loyalis Republikan sebenarnya telah melandai 4 poin sejak awal tahun. Dukungan militan atau “sangat setuju” dari kelompok ini pun turun dari 58% menjadi 52%.
Namun, di tengah awan mendung tersebut, masih ada secercah harapan bagi Trump pada isu imigrasi. Kebijakan perbatasan sang presiden mencatat kenaikan dukungan menjadi 44%. Selain itu, mayoritas warga (75%) masih berdiri di belakang usulannya terkait kewajiban menunjukkan identitas berfoto dalam pemilu.
Kini, dengan hanya sepertiga warga yang merasa negara berada di jalur yang benar, Trump menghadapi tantangan berat menjelang pemilihan paruh waktu. Janji untuk menekan harga-harga dan menjauhi konflik global kini menjadi tagihan yang dituntut segera lunas oleh pemilih yang mulai kehilangan kesabaran.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














