Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama Pengelolaan Air untuk Hadapi Tantangan Iklim

0
Belanda
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).Foto : Instagram / agusyudhoyono

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit senja Jakarta yang hangat, aroma perayaan King’s Day di Kompleks Kedutaan Besar Belanda, Kamis (23/4/2026), membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar diplomasi seremonial. Seperempat abad sudah Indonesia dan Belanda “berbagi nasib” dalam menjinakkan air, dan kini komitmen tersebut memasuki babak baru yang lebih krusial.

Pemerintah Indonesia resmi memperkuat kerja sama strategis dengan Belanda untuk menghadapi ancaman kembar yaitu penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut. Langkah ini menandai momentum 25 tahun kemitraan bilateral yang telah mencakup pengelolaan banjir hingga pemulihan sungai.

Air Sebagai Pembentuk Masa Depan

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menegaskan bahwa hubungan kedua negara bukan sekadar urusan teknis, melainkan tentang kelangsungan hidup.

Baca Juga :  KITA HARUS BANGGA PUNYA IDEOLOGI PANCASILA YANG ASLI INDONESIA

Air bukan sekadar sumber daya, tetapi kekuatan yang membentuk geografi, ekonomi, dan masa depan kita. Selama 25 tahun, kami bekerja bersama dalam berbagai solusi pengelolaan air,” ujar Gerritsen di tengah suasana perayaan.

Fokus utama kini diarahkan pada perlindungan pesisir utara Jawa yang kian rapuh. Sebagai bukti nyata, pekan lalu kedua negara telah menandatangani hibah untuk proyek percontohan di Demak dan Cirebon. Tak hanya itu, Belanda juga menunjukkan solidaritasnya lewat bantuan darurat sebesar €3 juta (sekitar Rp60 miliar) untuk penanganan banjir di Aceh dan Sumatra Utara pada akhir tahun lalu.

Dari Teknologi Hingga “Batik Hijau”

Kerja sama ini terlihat pada inisiatif yang menyentuh akar rumput. Gerritsen menyoroti Green Batik Challenge di Pekalongan, sebuah gerakan yang membuktikan bahwa pengelolaan air yang efisien bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan industri kreatif yang ramah lingkungan.

Baca Juga :  Garuda Muda Gagah! Indonesia Tundukkan Thailand dan Melaju ke Final Piala AFF U-23

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa air adalah urusan kedaulatan.

“Ketahanan pangan, energi, dan air adalah inti dari agenda nasional Indonesia. Air adalah fondasi pembangunan kita ke depan,” tegas AHY.

Menuju Proyek Raksasa (Giant Seawall)

AHY menilai kepakaran Belanda dalam arsitektur air sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara kepulauan. Saat ini, kolaborasi telah merambah ke berbagai titik, mulai dari rehabilitasi daerah aliran sungai di Kalimantan Tengah hingga proyek ambisius Tanggul Laut Raksasa (Giant Seawall) di pesisir utara Jawa.

Baca Juga :  Penurunan Permintaan Minyak Sawit dari India Picu Stok Melambung di Indonesia dan Malaysia

“Kolaborasi ini penting, baik dari sisi teknologi, inovasi, investasi, maupun pertukaran pengalaman. Kami mengundang Belanda untuk terus terlibat dalam proyek-proyek besar di Indonesia,” tambah AHY.

Pertemuan tersebut ditutup dengan sebuah optimisme bersama. Bagi Indonesia dan Belanda, air mungkin merupakan ancaman yang nyata, namun melalui kemitraan yang solid, ia juga menjadi peluang untuk membangun masa depan yang lebih tangguh dan aman dari terjangan ombak perubahan iklim.

Air bisa menjadi tantangan, tetapi juga peluang. Dengan kemitraan yang kuat, kita bisa membangun ketahanan dan masa depan yang lebih aman,” tutup AHY.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com