Kementerian Luar Negeri Rusia Mengeluarkan Pernyataan Tegas Terkait Dugaan Keterlibatan Negara Barat dalam Serangan Teror di Mali

0
serangan
Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita.Foto : jernih.co

NARASITODAY.COM, BAMAKOLangit Bamako yang biasanya tenang berubah menjadi medan tempur pada Sabtu (25/04/2026), saat gelombang serangan teroris terkoordinasi menghantam jantung pertahanan Mali.

Insiden yang menargetkan Bandara Internasional Modibo Keita dan kota garnisun Kati ini tidak hanya menyisakan puing-puing peperangan, tetapi juga memicu ketegangan diplomatik baru antara Moskow dan negara-negara Barat.

Serangan masif ini melibatkan sekitar 250 petarung yang berafiliasi dengan kelompok Al-Qaeda regional, JNIM, serta kelompok pemberontak Azawad Liberation Front (FLA). Meski pasukan Mali berhasil memukul mundur serangan tersebut, skalanya yang luas menimbulkan kecurigaan besar di pihak sekutu mereka, Rusia.

Jejak Asing di Balik Serbu

Kementerian Luar Negeri Rusia segera memberikan reaksi keras atas eskalasi ini. Moskow meyakini bahwa serangan sekompleks ini mustahil dilakukan tanpa bantuan operasional dari luar benua Afrika. Melalui pernyataan resmi, Rusia menyoroti ancaman stabilitas di wilayah Sahara-Sahel yang kian rapuh.

Baca Juga :  Pengadilan Agama Bandung Kabulkan Gugatan Cerai Atalia Praratya terhadap Ridwan Kamil

“Pihak Rusia menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi. Pertempuran ini menciptakan ancaman langsung terhadap stabilitas Mali, sebuah negara dengan hubungan persahabatan dengan Rusia, dan berisiko menimbulkan konsekuensi paling negatif bagi seluruh wilayah sekitarnya,” tulis Kementerian Luar Negeri Rusia dalam unggahan di Telegram.

Lebih jauh lagi, Moskow melayangkan tuduhan serius terhadap keterlibatan dinas intelijen negara-negara Barat dalam mempersiapkan para pemberontak tersebut.

Baca Juga :  Drone Tak Dikenal Hantam Pangkalan Militer Baghdad, Tidak Ada Korban Jiwa

“Data awal menunjukkan bahwa dinas keamanan Barat mungkin terlibat dalam pelatihan para pemberontak tersebut,” tambah kementerian tersebut dalam penjelasannya.

Di lapangan, unit militer Rusia “Africa Corps” yang dibentuk pada 2023 di bawah kendali Kementerian Pertahanan Rusia, turut terjun langsung dalam operasi pembersihan. Berdasarkan temuan mereka, terdapat bukti penggunaan persenjataan modern dan keterlibatan personil non-Afrika dalam barisan pemberontak.

Laporan resmi dari perwakilan Africa Corps menyebutkan kerugian besar di pihak penyerang, namun juga menyoroti kehadiran aktor transnasional.

Serangan itu didukung oleh tentara bayaran Ukraina dan Eropa yang menggunakan senjata buatan Barat. Kekuatan teroris kehilangan sekitar 1.000 militan dan lebih dari 100 kendaraan,” ungkap perwakilan Africa Corps.

Baca Juga :  Wamendagri Minta Pemprov Papua Pegunungan Fokus Jalankan Program Quick Win Presiden Prabowo

Geopolitik Dendam dan Pengaruh

Tudingan ini mempertegas pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, yang sebelumnya menuduh Prancis menggunakan metode kolonial untuk menggulingkan pemerintahan di Bamako. Sejak pasukan Prancis terusir dari Mali pada 2022, wilayah ini menjadi arena perebutan pengaruh yang sengit antara Barat dan Rusia.

Bagi Bamako, dukungan Rusia adalah pilihan kedaulatan, namun bagi Moskow, ini adalah benteng pertahanan terakhir melawan pengaruh neo-kolonialisme. Di tengah debu yang masih menyelimuti bandara Modibo Keita, Mali kini berada di pusat badai geopolitik global, di mana garis antara terorisme domestik dan permainan intelijen internasional kian kabur.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com