NARASITODAY.COM, BAMAKO – Kabut hitam menyelimuti langit Mali setelah serangan brutal mengguncang jantung militer negara itu pada Sabtu (25/4/2026). Menteri Pertahanan Mali, Jenderal Sadio Camara, yang merupakan tokoh kunci di balik pemerintahan militer saat ini, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan terkoordinasi yang menargetkan sejumlah situs strategis nasional.
Tragedi ini menjadi pukulan telak bagi kepemimpinan militer Mali. Juru bicara pemerintah, Issa Ousmane Coulibaly, mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui pernyataan resmi pada Minggu (26/4/2026). Camara tewas di kediamannya saat gelombang serangan serentak melanda kota garnisun Kati.
Serangan di Kota Militer yang Terjaga Ketat
Peristiwa ini menyoroti bagaimana Kati, sebuah kota militer yang dijaga sangat ketat dan menjadi kediaman Presiden sementara Assimi Goita, justru berhasil ditembus. Para penyerang melancarkan aksi bom mobil bunuh diri yang menghancurkan kediaman Camara.
Laporan memilukan dari AFP menyebutkan bahwa kekejaman ini tidak hanya merenggut nyawa sang Jenderal. Istri kedua Camara beserta dua cucunya dilaporkan turut menjadi korban jiwa dalam ledakan dahsyat tersebut.
Nicolas Haque dari Al Jazeera menggambarkan betapa pentingnya sosok Camara bagi stabilitas politik internal Mali selama ini.
“Dia adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam kepemimpinan militer yang berkuasa dan dipandang oleh beberapa orang sebagai calon pemimpin Mali di masa depan,” kata Nicolas Haque.
Serangan hari Sabtu lalu bukanlah aksi tunggal. Kekacauan meledak serentak di berbagai titik, mulai dari ibu kota Bamako, wilayah utara di Gao dan Kidal, hingga Sevare di bagian tengah. Aksi ini diduga kuat merupakan hasil kolaborasi antara afiliasi Al Qaeda dan pemberontak Tuareg.
Pengamat keamanan Bulama Bukarti menilai bahwa meski kedua kelompok tersebut memiliki tujuan ideologi yang berbeda, mereka kini telah menyatukan kekuatan untuk mengguncang kendali militer di Mali.
“Ini adalah dua kelompok yang berjuang untuk tujuan berbeda. Tetapi mereka bersatu tahun lalu dan mengatakan akan bekerja sama ke depannya, dan apa yang telah kita lihat selama beberapa hari terakhir adalah implementasi nyata dari kesepakatan ini,” jelas Bukarti.
Bayang-bayang Perang Saudara
Kematian Camara diprediksi akan mengubah peta kekuatan di Mali secara drastis. Dengan hilangnya salah satu arsitek utama kekuasaan militer pascakudeta 2020 dan 2021, stabilitas negara kini berada di ujung tanduk.
Bukarti memperingatkan bahwa hari-hari ke depan kemungkinan besar akan diwarnai oleh pertempuran yang lebih hebat demi memperebutkan wilayah-wilayah strategis yang ditinggalkan oleh otoritas pusat. Mali kini tidak hanya berhadapan dengan duka nasional, tetapi juga ancaman disintegrasi di tengah kepungan kelompok bersenjata yang kian solid.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














