NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C. – Langit Washington menjadi saksi momen bersejarah saat pesawat yang membawa Raja Inggris Charles III dan Ratu Camilla mendarat di Joint Base Andrews, Senin (27/4/2026). Ini merupakan kunjungan perdana Charles ke Amerika Serikat sejak ia resmi menyandang mahkota raja, sebuah lawatan yang sarat akan makna simbolis dan kepentingan geopolitik.
Upacara penyambutan singkat di pangkalan udara segera berlanjut menuju Gedung Putih. Di sana, Presiden AS Donald Trump bersama Ibu Negara Melania Trump telah menanti di teras kediaman resmi tersebut.
Pertemuan Privat dan Peringatan 250 Tahun
Keempatnya sempat berdiri berdampingan untuk sesi foto singkat di hadapan awak media sebelum melangkah masuk ke dalam gedung. Sebagaimana dikutip dari Reuters, agenda formal tersebut segera mencair dalam sesi minum teh pribadi yang menjadi pembuka rangkaian kunjungan selama empat hari ke depan.
Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan rutin. Istana Buckingham telah menggarisbawahi urgensi lawatan ini sejak pengumuman resminya pada akhir Maret lalu.
“Atas saran Pemerintah Yang Mulia Raja, dan atas undangan Presiden Amerika Serikat, Raja dan Ratu akan melakukan Kunjungan Kenegaraan ke Amerika Serikat,” tulis rilis resmi Kerajaan Inggris pada 31 Maret.
Istana menambahkan bahwa kunjungan ini memiliki misi khusus yaitu sebuah “Program Yang Mulia akan merayakan hubungan bersejarah dan hubungan bilateral modern antara Inggris Raya dan Amerika Serikat, menandai peringatan 250 tahun Kemerdekaan Amerika.”
Meski dibalut dengan kemegahan kerajaan, agenda Raja Charles di AS sangat padat dan mencerminkan kepedulian pribadinya. Ia dijadwalkan mengunjungi tugu peringatan 11 September di New York, serta bertolak ke Virginia untuk menghadiri “pesta jalanan” dalam rangka ulang tahun ke-250 AS.
Raja yang dikenal vokal terhadap isu lingkungan ini juga diagendakan bertemu dengan para pemimpin adat yang bergerak di bidang konservasi alam. Namun, puncak dari kunjungan ini akan terjadi pada Selasa (28/4/2026) waktu setempat. Raja Charles dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan pertemuan gabungan Kongres sebuah kehormatan langka yang terakhir kali dirasakan oleh mendiang Ratu Elizabeth II pada tahun 1991.
Menjahit Retakan Hubungan Transatlantik
Kunjungan ini tak lepas dari latar belakang ketegangan antara kedua negara. Meski Charles telah berulang kali ke AS sebelum menjadi raja, kedatangannya kali ini membawa beban diplomatik yang lebih berat.
Hubungan London dan Washington sempat menegang setelah Presiden Trump melontarkan kritik pedas terhadap Perdana Menteri Inggris. Ketidaksenangan Trump dipicu oleh sikap Inggris yang dianggap kurang memberikan dukungan penuh terhadap aksi militer AS di wilayah panas Selat Hormuz.
Pertemuan privat sambil menyesap teh di Gedung Putih diharapkan mampu menjadi pelumas bagi mesin diplomasi yang sempat tersendat. Di tengah carut-marut konflik global, kehadiran Raja Charles III di Washington seolah menjadi upaya Inggris untuk memastikan bahwa “hubungan istimewa” (special relationship) antara kedua negara tetap berdiri kokoh meski diterpa badai politik.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













