Lawan Krisis Demografi, China Gelontorkan Rp263 Triliun Demi Dongkrak Angka Kelahiran

0
demografi
Ilustrasi Kaki bayi yang baru lahir dengan label rumah sakit di ruang bayi.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,BEIJING – Negeri Tirai Bambu sedang berkejaran dengan waktu untuk menjinakkan bom waktu demografi. Menghadapi jalanan kota yang semakin sepi dari tawa riang anak-anak, Pemerintah China kembali menggelontorkan dana fantastis demi merayu generasi mudanya agar mau membangun keluarga dan menaikkan angka kelahiran yang terus merosot tajam.

Kementerian Keuangan China pada Selasa (2/6/2026) resmi mengumumkan bahwa pemerintah pusat akan mengalokasikan anggaran sebesar 99,9 miliar yuan atau setara Rp263,8 triliun. Dana jumbo ini disuntikkan khusus untuk mendukung berbagai program perawatan bayi dan anak usia dini yang dikelola oleh pemerintah daerah sebuah angka yang melonjak 10,6% dibandingkan tahun lalu.

“Pendanaan tambahan ini menandakan kesediaan yang lebih besar untuk menggunakan kebijakan fiskal guna mendukung keluarga,” ujar Xiujian Peng, peneliti senior Centre for Policy Studies di Victoria University Australia, kepada Newsweek, dikutip Rabu (3/6/2026).

Baca Juga :  Cibungbulang Jadi Magnet Baru Pengembang Perumahan di Bogor Barat

Dengan tambahan dana segar tersebut, total subsidi perawatan anak yang dikucurkan pemerintah diperkirakan bakal menyentuh angka 110 miliar yuan (sekitar Rp290,5 triliun). Pihak Kementerian Keuangan memastikan bahwa distribusi subsidi sepanjang tahun ini telah berjalan lancar dan teratur.

Langkah agresif Beijing ini bukan tanpa alasan. Di balik gemerlap ekonominya, China tengah dihantui keengganan generasi muda untuk memiliki keturunan. Kombinasi mematikan antara tingginya biaya hidup, mahalnya biaya pendidikan, persaingan dunia kerja yang mencekik, hingga pergeseran nilai memandang pernikahan membuat banyak pasangan memilih hidup tanpa anak.

Pemerintah China sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai insentif telah ditebar ke masyarakat, mulai dari subsidi tunai sebesar US$500 (sekitar Rp8,9 juta) untuk setiap anak di bawah usia tiga tahun, pembebasan biaya TK negeri, hingga jaminan seluruh biaya persalinan.

Bahkan, Beijing mengambil langkah ekstrem yang kontroversial dengan mencabut pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk alat kontrasepsi yang sudah dinikmati warga selama lebih dari tiga dekade. Sejak Januari lalu, kondom resmi dikenakan PPN sebesar 13%.

Baca Juga :  Audisi Tenis Meja Indonesia 2025, Tempat Para Atlet Muda Berprestasi Berlomba

Kebijakan ini langsung memukul pasar; estimasi bank investasi Jefferies yang dikutip Financial Times menunjukkan penjualan Durex, merek kondom terlaris di China, ambles sekitar 5% pada kuartal pertama tahun ini.

Tantangan Menatap Masa Depan yang Menua

Meski dompet negara telah dikuras, sejumlah pakar menilai guyuran uang tunai belum tentu menjadi obat mujarab untuk membalikkan tren penurunan kelahiran yang sudah mengakar. Menurut Xiujian Peng, subsidi memang bisa meringankan beban finansial jangka pendek, tetapi nasib masa depan demografi China bergantung pada pembenahan sistemik.

“Efektivitasnya pada akhirnya bergantung pada apakah subsidi tersebut disertai langkah-langkah yang lebih luas untuk mengatasi biaya keseluruhan pengasuhan anak,” kata Peng menekankan.

Tantangan yang membentang di hadapan Presiden Xi Jinping memang teramat berat. Tingkat kesuburan di China telah merosot ke angka 0,97 kelahiran per perempuan pada 2025, turun dari angka 1,02 di tahun sebelumnya. Angka ini menjerit jauh di bawah tingkat penggantian populasi ideal sebesar 2,1.

Baca Juga :  Kerapu Panggang Bumbu Bawang, Resep Lauk yang Bikin Makan di Rumah Makin Spesial

Ketika jumlah ranjang di ruang bersalin menganggur, China justru harus menghadapi lonjakan jumlah pensiunan dan lesunya konsumsi domestik. Menyusutnya angkatan kerja produktif di tengah populasi yang menua dengan cepat ditakutkan akan menjadi jangkar yang menyeret turun ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Data terbaru dari biro statistik China mengonfirmasi potret muram tersebut yaitu jumlah kelahiran tahun lalu hanya menyentuh 7,92 juta bayi (turun 2,4%). Sementara di sisi lain, angka kematian melesat hingga 11,31 juta jiwa. Sebuah realitas pahit yang menegaskan bahwa populasi Negeri Panda kini sedang mengerut secara nyata.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com