Nike Umumkan PHK 1.400 Karyawan Global sebagai Strategi Merampingkan Operasi

0
Nike
Logo nike.Foto : ciputra.ac.id

NARASITODAY.COM, BEAVERTON – Raksasa perlengkapan olahraga dunia, Nike, kembali mengambil langkah drastis untuk keluar dari bayang-bayang kelesuan bisnis yang menyelimuti perusahaan dalam tiga tahun terakhir. Pada Kamis (23/4/2026), perusahaan yang berbasis di Oregon ini resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.400 karyawan operasional globalnya.

Langkah efisiensi ini mencakup sedikit kurang dari 2% dari total tenaga kerja global Nike. Fokus utama perampingan ini menyasar tim teknologi di wilayah Amerika Utara dan Eropa, sebagai bagian dari strategi besar untuk menyederhanakan alur kerja yang dianggap terlalu gemuk.

Restrukturisasi di Tengah Tekanan Kompetitor

Dalam memo internal yang dikirimkan kepada karyawan, Chief Operating Officer (COO) Nike, Venkatesh Alagirisamy, menjelaskan bahwa perubahan ini diperlukan untuk mengintegrasikan rantai pasok dari bahan baku hingga produk jadi dengan lebih efisien.

Baca Juga :  Gelombang PHK Masih Berlanjut, 8.389 Pekerja Terdampak per April 2026

Nike juga berencana memusatkan operasional teknologinya hanya pada dua titik utama: kantor pusat di Beaverton dan Nike India Technology Center.

“Pengurangan jumlah karyawan akan terjadi terutama di Amerika Utara dan Eropa, dan sebagian besar menyasar tim teknologi,” ungkap Alagirisamy dalam memo tersebut, dikutip dari Reuters.

Keputusan sulit ini diambil saat Nike sedang berjuang keras mengembalikan kepercayaan investor. Saham perusahaan telah anjlok lebih dari separuh nilainya dalam tiga tahun terakhir. Nike kini tak lagi “berlari” sendirian tapi mereka mulai terengah-engah menghadapi pesaing yang lebih gesit dan inovatif seperti On, Hoka, dan Anta yang berhasil mencuri perhatian konsumen di rak-rak toko ritel.

Baca Juga :  PHK Massal Mengintai! Industri Tekstil Nasional di Ujung Tanduk

Misi Besar CEO Elliott Hill

Sejak menjabat pada 2024, CEO Elliott Hill memikul beban berat untuk membawa Nike kembali ke akar identitasnya yaitu olahraga inti seperti lari dan sepak bola. Namun, transisi ini rupanya memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Data internal menunjukkan proyeksi penjualan Nike akan turun sekitar 2% hingga 4% pada kuartal berjalan. Pasar China, yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan, justru menjadi titik lemah dengan prediksi penurunan penjualan hingga 20%.

Sebagai bagian dari upaya penyelamatan merek, Nike juga akan merombak operasional Converse merek ikonik yang juga sedang kesulitan dengan memindahkan manufakturnya lebih dekat ke mitra pabrik Nike.

Baca Juga :  Pengusaha Galian C Tabrak Aturan dan Kangkangi Satpol PP

“Langkah ini untuk lebih mendukung kebutuhan merek tersebut ke depan,” tambah Alagirisamy.

Gelombang Otomatisasi

PHK kali ini bukanlah yang pertama bagi Nike. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan beberapa gelombang pemangkasan, termasuk penghapusan 775 posisi untuk mempercepat proses otomatisasi di berbagai lini.

Bagi para analis, restrukturisasi ini adalah sinyal bahwa “si centang” (The Swoosh) sedang berusaha mengatur napas kembali. Di tengah persaingan ketat industri apparel olahraga, Nike bertaruh pada perampingan birokrasi dan fokus teknologi untuk bisa kembali melompat lebih tinggi di masa depan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber