NARASITODAY.COM, MOSKOW – Dinginnya hubungan antara Timur dan Barat kini mencapai titik beku baru. Moskow secara terbuka melayangkan peringatan keras kepada negara-negara Eropa agar tidak memberikan landasan bagi pesawat pengebom strategis berkemampuan nuklir milik Prancis.
Rusia menegaskan bahwa setiap negara yang membuka pintu bagi “benteng terbang” tersebut otomatis masuk dalam daftar bidik serangan jika konflik besar pecah.
Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap ambisi Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang berniat memperluas payung nuklir negaranya ke seluruh penjuru Eropa. Sejak Maret lalu, Macron telah menawarkan skema bagi negara mitra untuk menampung armada nuklirnya sebagai bentuk tanggung jawab pertahanan mandiri kawasan.
Daftar Target yang Diperbarui
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, menyebut langkah Paris sebagai pemicu eskalasi yang tak terkendali di dalam tubuh NATO. Baginya, kehadiran nuklir Prancis di tanah negara-negara tetangga Rusia adalah ancaman strategis yang menuntut jawaban militer.
“Jelas, militer kami akan dipaksa untuk memperhatikan hal ini secara serius, termasuk memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar,” ujar Grushko dalam wawancara dengan media pemerintah Russia Today, dikutip Jumat (24/4/2026).
Grushko menilai bahwa alih-alih memberikan perlindungan, kehadiran senjata pemusnah massal tersebut justru meletakkan target di punggung negara-negara tuan rumah.
“Alih-alih memperkuat pertahanan sekutu seperti yang diklaim Prancis, yang bahkan tanpa jaminan pasti, langkah ini justru akan memperburuk keamanan mereka,” tambah Grushko.
Eropa di Persimpangan Jalan
Inisiatif Macron ini tidak muncul di ruang hampa. Di tengah kritik pedas Presiden AS Donald Trump terhadap efektivitas NATO, negara-negara seperti Jerman, Polandia, Belanda, hingga Swedia dan Denmark kini tengah mempertimbangkan tawaran Prancis. Eropa merasa perlu “berdiri di atas kaki sendiri” saat komitmen Washington mulai dipertanyakan.
Namun, perlombaan senjata ini terjadi di saat yang paling berbahaya. Pada Februari lalu, perjanjian terakhir yang membatasi persenjataan nuklir strategis antara Rusia dan AS resmi berakhir, meninggalkan kekosongan aturan dalam pengendalian senjata global.
Menuju Ketidakpastian Global
Rusia kini menuntut agar setiap dialog pengendalian senjata di masa depan harus mengalkulasi kekuatan gabungan NATO secara utuh mencakup arsenal nuklir milik Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat sekaligus.
Di sisi lain, pekan ini NATO berbalik arah mengkritik kebijakan nuklir Rusia dan China. Aliansi militer Barat tersebut mendesak transparansi global menjelang konferensi peninjauan perjanjian non-proliferasi nuklir di markas PBB, New York.
Di bawah bayang-bayang kegagalan diplomasi, langit Eropa kini tak lagi sekadar jalur penerbangan sipil, melainkan arena catur nuklir yang kian memanas. Bagi negara-negara kecil di kawasan tersebut, pilihan untuk menampung pesawat pengebom Prancis kini menjadi perjudian besar antara kedaulatan atau kehancuran.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














