NARASITODAY.COM, FORT BRAGG – Di dunia intelijen, informasi adalah senjata. Namun bagi Sersan Kepala Gannon Ken Van Dyke, informasi rahasia negara ternyata menjadi tiket taruhan kelas kakap. Prajurit aktif Pasukan Khusus AS ini kini harus bertukar seragam militernya dengan baju tahanan setelah diduga melakukan “perjudian orang dalam” terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Van Dyke ditangkap otoritas penegak hukum menyusul kesuksesan Operasi Absolute Resolve pada Januari 2026 sebuah misi rahasia yang mengekstradisi Maduro dari Caracas. Ironisnya, kemenangan taktis militer AS tersebut justru menjadi awal kejatuhan Van Dyke di meja hijau.
Spekulasi di Balik Layar Digital
Penyelidikan bermula ketika akun anonim di Polymarket, salah satu pasar prediksi terbesar di dunia, memenangkan keuntungan fantastis sebesar US$400.000 (sekitar Rp6,89 miliar). Van Dyke diketahui memasang taruhan sebesar US$32.000 pada akhir Desember 2025 dengan prediksi berani yaitu Maduro akan tertangkap pada Januari.
Meski peluang menang pasar tersebut awalnya sangat kecil, Van Dyke bukanlah penjudi biasa. Sebagai bagian dari unit elit di Fort Bragg, ia memiliki “kunci” menuju informasi yang tidak diketahui publik.
“Namun, menurut jaksa, Van Dyke terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan Operasi Absolute Resolve, dan memiliki akses ke informasi rahasia sebelum ia memasang taruhan. Kemenangannya, meskipun anonim, segera menarik perhatian penegak hukum,” tulis laporan CNN Internasional, Sabtu (25/4/2026).
Bukti Foto dan Jejak Kripto
Jaksa menyebut Van Dyke melakukan 13 kali taruhan, dengan transaksi terakhir dilakukan hanya beberapa jam sebelum penangkapan Maduro dimulai. Dokumen pengadilan mengungkap detail dramatis; sebuah foto memperlihatkan Van Dyke di atas dek kapal saat matahari terbit, memegang senapan dalam seragam lengkap, tepat di waktu ia memasang taruhan terakhirnya melalui jaringan pribadi.
Keuntungan tersebut kemudian dipindahkan ke brankas mata uang kripto asing demi menyembunyikan jejak, sebelum akhirnya disetorkan ke rekening pialang daring. Kini, prajurit senior itu menghadapi lima dakwaan berat, termasuk pencurian informasi rahasia pemerintah dan penipuan.
“Para anggota kami yang berseragam dipercayai dengan informasi rahasia untuk menyelesaikan misi mereka seaman dan seefektif mungkin, dan dilarang menggunakan informasi yang sangat sensitif ini untuk keuntungan finansial pribadi,” tegas Pelaksana Tugas Jaksa Agung, Todd Blanche.
Kasus ini menarik perhatian langsung Presiden Donald Trump. Meski tidak merinci detail insiden, Trump memberikan perumpamaan tajam yang menyamakan skandal ini dengan noda hitam di dunia olahraga.
“Itu seperti Pete Rose bertaruh pada timnya sendiri,” kata Trump pada Kamis, merujuk pada legenda bisbol yang dilarang bertanding selamanya karena berjudi.
Lebih jauh, Trump menyatakan keprihatinannya terhadap tren pasar prediksi yang kini menyentuh ranah konflik geopolitik dan peperangan.
“Yah, saya pikir seluruh dunia, sayangnya, telah menjadi semacam kasino. Sekarang, saya rasa saya tidak senang dengan itu,” pungkas Presiden Trump.
Pasar Prediksi dalam Sorotan
Pihak Polymarket sendiri bertindak cepat dengan merujuk kasus ini ke Departemen Kehakiman. Dalam unggahan di platform X, mereka menegaskan bahwa “perdagangan orang dalam tidak memiliki tempat di Polymarket.”
Kendati demikian, insiden ini membuka debat panjang mengenai etika pasar prediksi. Di satu sisi, platform ini dianggap mampu mempercepat arus informasi, namun di sisi lain, ia menciptakan insentif bagi personel militer untuk mengomersialkan rahasia negara.
Kini, Van Dyke menunggu sidang pertamanya di North Carolina. Jabatan sersan mayor yang diembannya posisi yang seharusnya menjadi kompas moral bagi prajurit muda kini justru menjadi pengingat pahit tentang bagaimana keserakahan pribadi dapat mengompromikan integritas keamanan nasional.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













