NARASITODAY.COM, PYONGYANG – Sebuah kompleks monumen baru berdiri tegak, menjadi saksi bisu atas pergeseran narasi militer Korea Utara. Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un secara resmi meresmikan situs peringatan yang didedikasikan bagi para tentara yang tewas dalam pertempuran bersama pasukan Rusia, sebuah momen yang secara eksplisit mengkonfirmasi doktrin “loyalitas hingga mati” milik Pyongyang.
Suasana khidmat menyelimuti kompleks yang berfungsi ganda sebagai museum dan pemakaman ini. Dalam salah satu fragmen yang tertangkap kamera media pemerintah, Kim Jong Un tampak berjalan perlahan di antara barisan makam baru. Ia sempat berhenti, berlutut, dan menaburkan tanah ke salah satu liang dengan ekspresi yang sangat emosional.
Dalam pidatonya, Kim tidak hanya memberikan penghormatan kepada mereka yang gugur, tetapi secara terbuka memuji aksi bunuh diri di medan perang sebagai bentuk pengabdian yang tak tertandingi.
“Mereka yang tanpa ragu memilih untuk meledakkan diri telah menunjukkan bentuk pengabdian paling tinggi,” ujar Kim, seperti dikutip media pemerintah KCNA, Kamis (30/4/2026).
Pengakuan Terbuka atas Doktrin Kematian
Pernyataan ini menjadi tonggak sejarah baru. Selama puluhan tahun, badan intelijen Barat dan para pembelot hanya menduga adanya doktrin yang mewajibkan tentara Korea Utara mengakhiri hidup daripada menyerah. Kini, melalui mulut sang pemimpin tertinggi, praktik tersebut bukan lagi sekadar rumor.
Narasi kepahlawanan melalui kematian ini diperkuat dengan dekorasi kompleks yang megah namun kelam: patung-patung perunggu prajurit dan dinding marmer hitam yang panjang. Di sana, terukir setidaknya 2.288 nama tentara yang tewas.
Media pemerintah dalam beberapa bulan terakhir juga mulai berani merilis rincian kematian para prajurit. Laporan tersebut mendeskripsikan momen-momen dramatis di mana tentara meledakkan granat saat posisi mereka terkepung, atau memilih mengakhiri hidup setelah terluka parah demi menghindari penangkapan oleh pihak lawan.
Jejak Perang di Marmer Hitam
Monumen ini juga menjadi bukti fisik besarnya keterlibatan Korea Utara dalam konflik Rusia-Ukraina. Meskipun pejabat Barat memperkirakan lebih dari 10.000 tentara dikerahkan ke wilayah Kursk, angka-angka tersebut tidak pernah diakui secara resmi hingga munculnya deretan nama di dinding marmer ini.
Peresmian ini turut dihadiri oleh pejabat Rusia dan diwarnai dengan pesan khusus dari Presiden Vladimir Putin. Di lokasi yang sama, Pyongyang memamerkan persenjataan sitaan seperti tank Leopard buatan Jerman dan Abrams dari Amerika Serikat untuk menegaskan keberhasilan misi mereka.
Realita di Balik Garis Depan
Namun, dibalik kemegahan marmer dan pujian setinggi langit, sisi lain dari pertempuran ini mulai terungkap. Beberapa tentara Korea Utara yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Ukraina memberikan kesaksian yang kontras.
Banyak dari mereka mengaku tidak mengetahui akan dikirim ke garis depan hingga detik terakhir. Ironisnya, doktrin “loyalitas tertinggi” ini telah tertanam begitu dalam hingga ke psikologis mereka.
Salah satu tawanan bahkan menyatakan penyesalan yang mendalam karena gagal meledakkan diri sebelum tertangkap, sebuah cerminan nyata dari doktrin maut yang kini secara terbuka diagungkan oleh Kim Jong Un.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














