NARASITODAY.COM – Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah sering kali menjadi isu yang mengganggu kehidupan umat Islam di Indonesia. Padahal, mempermasalahkan perbedaan keduanya bukanlah sesuatu yang seharusnya dipertentangkan dalam agama. Islam mengajarkan untuk saling menghormati perbedaan yang ada.
NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi massa Islam yang memiliki pengikut terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, jika ada ketegangan kecil di antara keduanya, segera ditangani agar tidak berkembang menjadi lebih besar dan menimbulkan perpecahan yang bisa merusak persatuan bangsa. Nauzubillah min dzalik.
Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah
Berikut adalah beberapa perbedaan yang sering menjadi perbincangan di kalangan umat Islam di Indonesia. Sebagian orang menanggapinya dengan santai, sementara yang lain terkadang bereaksi berlebihan terhadap hal ini.
-
Pendiri
Dengan hikmah yang diberikan Allah Swt. kepada ulama pendirinya, dua organisasi besar ini pun lahir. Meskipun berbeda, kedua organisasi ini berakar pada ajaran Rasulullah saw. KH. Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah, sedangkan KH. Hasyim Asy’ari adalah pendiri NU. -
Ibadah
Terkait ibadah, terdapat beberapa perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, seperti yang berikut ini:
Sholat
Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dalam sholat terutama terlihat pada bacaan-bacaan tertentu, seperti doa iftitah, bacaan setelah ruku, serta bacaan pada tahiyat awal dan akhir. Bacaan ruku dan sujud dalam Muhammadiyah sama, sedangkan pada NU bacaan tersebut berbeda.
Sholawat
Bagi umat Muslim NU, sholawat sangat dianjurkan dan bahkan ada yang mengamalkannya hingga ribuan kali dalam sehari. Sementara itu, Muhammadiyah tidak menganjurkan bersholawat hingga mencapai ratusan atau ribuan kali.Dalam hal sholat, NU menambahkan kata “sayyidina” (sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi saw.), yang tidak dilakukan oleh Muhammadiyah, karena mereka beranggapan bahwa tidak ada tuntunan untuk menambahkannya.
Tahlil
Tahlilan adalah kegiatan yang sangat umum di kalangan umat NU, biasanya dilakukan dalam berbagai acara seperti pengajian, malam Jumat, atau syukuran. Sementara itu, Muhammadiyah tidak melaksanakan tahlilan secara bersama-sama dalam berbagai acara keagamaan.
Kebiasaan Berdoa
Terkait kebiasaan berdoa, terdapat perbedaan antara NU dan Muhammadiyah. NU menganjurkan mengirim doa atau amalan untuk orang yang telah meninggal, sementara Muhammadiyah berpendapat bahwa doa tidak akan sampai pada orang yang telah wafat karena amalan terputus setelah kematian. Sebaliknya, NU percaya bahwa doa dan amalan tetap bisa sampai dan memberikan pahala meski orang tersebut telah meninggal.
Menentukan Hilal
Dalam penentuan tanggalan komariah, NU mengandalkan rukyatul hilal (pengamatan hilal), sedangkan Muhammadiyah mengandalkan perhitungan astronomi atau hisab. Itulah sebabnya, terkadang awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha berbeda. -
Pendidikan
Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan terletak pada penerimaan unsur modern yang lebih erat dengan Muhammadiyah, sementara NU cenderung mempertahankan unsur tradisional. NU masih mentolerir kebiasaan atau budaya Indonesia, asalkan tidak bertentangan dengan akidah. Sebaliknya, Muhammadiyah berfokus pada pemurnian ajaran agama dan melarang segala hal yang dianggap bid’ah, meskipun itu adalah warisan budaya. -
Mazhab
Muhammadiyah tidak menganggap mazhab sebagai sumber hukum yang wajib diikuti, melainkan lebih mengedepankan Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan NU di Indonesia umumnya mengikuti mazhab Syafi’i sebagai ajaran ahlussunnah wal jamaah. Untuk tasawuf, umat NU merujuk kepada Imam Al Ghazali. -
Sumber Ajaran
Dalam hal sumber ajaran, Muhammadiyah hanya mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan NU mengikuti Al-Qur’an, Sunnah, Ijma, dan Qiyas.
Sikap yang Harus Dilakukan Menyikapi Perbedaan
Allah Swt. telah memberikan petunjuk mengenai cara menghadapi perbedaan dalam QS. Al Hujurat ayat 13, Juz 26. Allah Swt. menciptakan umat manusia dari satu pasangan, Nabi Adam as. dan Siti Hawa, yang kemudian melahirkan beragam suku, bangsa, agama, dan ras.
Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk saling mengenal dan membantu dalam perbedaan yang ada. Tidak ada kedudukan mulia bagi golongan, keturunan, atau kekayaan, melainkan ketakwaanlah yang menjadi ukuran yang paling utama.
Tuhan kita Yang Maha Esa tidak mengizinkan umat manusia untuk merendahkan atau menghina perbedaan yang ada. Justru, perbedaan menjadi kesempatan untuk berbuat baik dan saling membantu dalam hal-hal yang diridhai-Nya, agar kita memperoleh derajat sebagai umat yang mulia.
Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah seharusnya tidak menjadi pemicu ketidakharmonisan antara keduanya. Perbedaan adalah hal yang wajar, dan dari situlah kita sebagai bangsa yang beragam bisa belajar untuk saling mengisi kekurangan. Dengan demikian, yang tercipta adalah kekuatan persatuan yang dihormati oleh mereka yang mungkin ingin melihat perpecahan.
Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah memang perlu disikapi dengan bijaksana. Perbedaan adalah hal yang wajar, sedangkan yang menjadikannya tidak wajar adalah sikap berlebihan dalam merespon perbedaan dan merasa paling benar. Semoga umat Islam di Indonesia selalu hidup damai meskipun ada perbedaan yang ada.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel













