NARASITODAY.COM, TEHERAN – Langit Timur Tengah yang kian pekat oleh asap mesiu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil langkah diplomatik yang tak terduga. Di hadapan kamera TV Pemerintah pada Sabtu (7/3/2026), wajah sang Presiden tampak tegang namun tenang saat ia menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangga, sebuah gestur langka di tengah kecamuk perang yang kini memasuki pekan kedua.
Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah sekitar 80 jet tempur Israel membombardir pusat militer dan fasilitas rudal di Teheran. Serangan udara masif tersebut menandai babak baru eskalasi yang kini mulai menyeret stabilitas kawasan Teluk ke titik nadir.
Janji Damai dan Garis Merah
Meski nada bicaranya merendah saat menyapa negara tetangga, Pezeshkian tetap menunjukkan taringnya terhadap AS dan Israel. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki ambisi untuk memperluas agresi, kecuali jika kedaulatan mereka diusik dari tanah tetangga tersebut.
“Saya meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” ujar Pezeshkian dalam pidatonya yang dilansir dari AFP.
Ia memberikan jaminan keamanan dengan satu syarat mutlak yakini netralitas. Pezeshkian menegaskan tidak akan menargetkan negara-negara tetangga kecuali jika serangan terhadap Iran diluncurkan dari wilayah negara-negara tersebut.
Perlawanan Hingga Akhir
Sentuhan emosional dalam pidatonya memuncak saat ia membicarakan tekanan dari blok Barat. Dengan nada yang lebih berat dan tegas, ia menutup ruang kompromi bagi pihak yang berharap Iran akan bertekuk lutut akibat gempuran militer maupun sanksi.
“Musuh-musuh harus membawa keinginan mereka agar rakyat Iran menyerah ke kuburan mereka,” tegasnya.
Respon Regional
Goncangan di Teheran segera memicu alarm di seluruh penjuru Arab. Meluasnya konflik ke kawasan strategis Teluk memaksa Liga Arab untuk bergerak cepat. Dilaporkan bahwa pertemuan darurat akan segera digelar pada Minggu (8/3/2026) untuk mencari jalan keluar dari eskalasi yang kian tak terkendali ini.
Sejauh ini, dunia masih menanti apakah permohonan maaf Pezeshkian mampu mendinginkan tensi regional, atau justru menjadi pembuka bagi konfrontasi yang lebih besar di jantung penghasil minyak dunia tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














